Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 9

adopted from vidio.com

Mungkin aku boleh dan wajib dikatakan anak durhaka. Setelah kejadian itu, aku tidak tahu menahu soal ibu dan ayah, tepatnya pura-pura tidak tahu. Pak Aji dan pengurus-pengurus kampung yang berwenang sering berkumpul, membahas bagaimana jasad ibu dan ayahku dikubur. Apa agama mereka?

“Bukankah ibu sudah menjadi abu? Untuk apa lagi dikubur. Dia sudah menyatu dengan dirinya sendiri. Tanah menjadi tanah. Ayah? Aku tidak tahu agamanya. Suruh saja istri-istrinya yang lain yang bertanggung jawab.” Aku berkata datar. Pak Aji sebenarnya tidak ingin melibatkan aku yang masih kelas 6 SD dalam urusan ini. Tapi karena hidupku memang tidak beres dan informasi tentang hidupku masih abu-abu, maka, Pak Aji tak punya pilihan lain. Selain itu, kudengar Pak Aji mengatakan pada penduduk kampung bahwa dalam segi mental, aku sudah cukup dewasa dibanding anak-anak lain. Aku tidak tahu harus senang atau tersinggung soal itu.

“Lalu… Rumah, hmm, maksudku tanah yang berantakan itu jual atau lelang saja.” Aku berkata santai, aku tahu, orang-orang dewasa dirumah ini sedang bergidik melihatku.

Setelah pembahasan-pembahasan lain yang tidak begitu penting, mereka satu per satu pergi. Tinggallah kami sekeluarga, hah? Berempat, Pak Aji, Bu Aji, Surti dan aku. Aku tertunduk, entah kenapa, aku tidak berani menatap kehangatan tatapan tiga orang ini. Tidak dulu ketika status kami masih tetangga, pun sekarang saat surat-surat pengangkatanku sedang diurus.

“Kenapa tidak kalian masukkan aku ke Panti Asuhan saja?” Aku memecah hening. Hujan gerimis diluar sana.
“Kau mau?” Aku terdiam, menggeleng.
“Kenapa? Kau tidak betah tinggal disini? Apa Surti menjahilimu?” Surti tersenyum, pipiku memanas.
“Haha. Bagaimana ujian tadi, Nak?” Seluruh ruangan diam. Aku baru sadar pertanyaan barusan itu untukku, bukan Surti. Air mataku tergenang.

“Hmm… Baiklah. Sudah jam 10 malam, sudah saatnya tidur. Besok masih ada ujian kan?” Aku diam. Bergerak sedikit, airmataku akan tumpah dan aku tidak ingin ketahuan menangis dihadapan siapapun.

“Bolehkah aku tidur sendirian malam ini?” Aku masih tertunduk, tidak tahu bertanya pada siapa. Kulihat bayangan Pak Aji yang mengangguk.

“Tentu saja, Nak. Surti bisa tidur dengan Umi dan Abi ya?”

Tak perlu kudengar jawaban Surti, aku sudah berhambur ke kamar Surti yang sudah diatur sedemikian rupa agar menjadi kamarku juga. Tak kuhidupkan lampu tidur, tak lupa kuputar kunci ke kanan. Aku butuh kegelapan untuk benar-benar tersedu.


Artikel Terkait