Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 8

adopted from vidio.com

Heh, soal ujian nasional ini sungguh sangat mudah. Aku bisa melahapnya hanya dalam waktu sepuluh menit, 5 menit untuk membulat-bulatkan LJK menyebalkan. Total lima belas menit. Tapi sial, aku tidak dibolehkan keluar, berkali-kali aku mengatakan aku tidak asal jawab, berkali-kali pula si pengawas menyuruhku memeriksa lagi jawabanku. Aku melirik orang-orang di ruanganku. Tidak ada yang aku kenal kecuali dua orang, Surti dan Bakpao. Kebetulan? Surti wajar, nama kami berdekatan P dan S. Di ruangan ini untuk abjad nama P dan S atau yang mendekati. Tapi W untuk William Rahaditma? Curang! Dia mengemis pada mami dan papinya untuk seruangan denganku. Orangtuanya selalu tak punya pilihan lain selain menuruti semua keinginan anak manja mereka.

“Te-nang-lah.” Kulihat ekspresi Surti yang teduh menyuruhku. Tenanglah, atau tidur saja di meja daripada grasa-grusu minta keluar ruangan.

Aku mengangguk. Aku merasakan seorang tuyul yang hanya berpisah satu bangku dariku sedang menatapku agar aku melihatnya, mengadakan kontak dengannya. Tak sudi aku, tapi kasihan juga. Siapa lagi kalau bukan Si Bakpao yang baru mengisi lima soal dari total 40. Memasang tampang minta belas kasihan pangkat dua puluh tiga. Menyedihkan. Aku menatapnya, bibirnya manyun dua senti. AKU, ingin muntah.

“Kau pelit sekali, Pelangi!” Aku tidak peduli.
“Sungguh keterlaluan!” Aku tidak peduli.
“Bagaimana jika aku tidak lulus?” Bukan urusanku.

“Aku sudah memberikanmu sepeda agar kau tidak berjalan kaki dengan kaki berdarah-darah itu. Kubelikan kau semua mainan, baju-baju lucu. Wa-la-u-pun tak per-nah kau a-kui.” Ya, ungkit saja semuanya!

“Tega kau, Pelangi!” Dasar cengeng.

Dia meraung-raung, menangis dihadapan Surti. Surti tidak tahu harus berbuat apa. Aku akhirnya turun tangan.

“Bang, siomay 10.000!” Mata Si Bakpao membulat, berhenti sudah tangisan buayanya. Heh, bual saja, tak akan bisa dia sedih di dunia ini. Orangtuanya bisa melakukan apa saja.

Aku menjulurkan siomay tepat didepan wajah bulat William. Ia tersenyum manja.

“Bayar sendiri!”

Senyumnya pudar.


Artikel Terkait