Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 7

adopted from vidio.com

Kedalam mimpi itu, aku terbangun, tapi tak bergerak, kulihat sekelilingku, begitu ramai dengan suara-suara yang hilang-hilang timbul. Sayup-sayup kudengar suara adzan, kupaksakan diri mengenali sekeliling. Kenapa neraka begitu damai? Dan, eh? What??? Ada Si Bakpao dan Surti di neraka?

Bakpao, itu pantas. Tapi Surti? Gadis ayu, pendiam, cantik dan alim sepertinya masuk neraka? Apa yang telah ia perbuat? Dan kenapa, eh, neraka lebih mirip rumah tetangga sebelah?!.

Astaga! Aku tidak mimpi. Aku masih hidup?

“Assalamu’alaikum, Pelangi.”

Surti memelukku hangat. Kerumunan ramai tadi sudah pulang satu per satu, aku dengar Pak Haji, ayahnya Surti memberi pengertian bahwa aku masih sangat shock. Hanya Si Bakpao yang bebal.

“Duh, Pak Aji, saya nginap sini lah ya. Dia tu calon pacar saya, Pak Aji!” Tidak sopan, bicara pada pemuka agama sambil mengunyah kerupuk kuah! Dan dia tidak menawariku!!

Kewalahan Pak Aji megatakan, tidak baik, mau tidur dimana, tak mau Si Bebal itu mendengarnya. Akhirnya Pak Aji menyerah, “Tidurlah dengan saya kalau begitu.”

Bakpao mengangguk cepat. Sudah lama ia tidak tidur dengan seorang ayah.

###

Hari itu, aku kira aku akan pergi ke neraka bersama ibu. Tapi lebih buruk, aku masih hidup di neraka yang sama, dan lebih buruk lagi, tanpa ibu—dan ayah. Ya, lelaki itu memutuskan untuk membunuh dirinya setelah mengetahui ibu gantung diri. Dalam suratnya untukku, ia sebutkan bahwa ibu dan ayah saling mencintai. Aku mual, aku jijik, cinta seperti apa itu? Memukul ibu setiap hari? Cinta apa itu?!

Aku tambah tidak percaya dengan cinta. Cinta sungguh keterlaluan menurutku. Cinta itu tidak ada indah-indahnya, menyiksa, mengikat, membunuh, menciptakan darah orang-orang tak bersalah. Dalam surat itu, tak lupa lelaki tua bangka itu memberikanku semua warisannya. Semua? Hanya satu, rumah yang sudah hangus terbakar. Tinggal puing-puingnya saja.

Dan aku? Mungkin orangtua Surti akan menjebloskanku ke Panti Asuhan dan aku berencana kabur, menjadi gelandangan lebih baik daripada hidup dalam aturan sialan panti asuhan menyedihkan. Lalu diangkat orang kaya yang ternyata menjadikanmu pembantu, bukan anak. Bayang-bayang itu membuatku geli.

Ah, aku selalu bahagia bisa menumpahkan segalanya pada satu orang. Padamu, diary baik hati. Karena pada tuhan manapun, aku tak percaya. Selamat Subuh dari kejauhan.

###

Dugaanku salah, orangtua Surti tidak sudi memasukkanku ke Panti Asuhan. Mereka akan merawatku! Aku akan diangkat anak oleh Bapak dan Ibu Haji, orang-orang terpadang di kota ini. Aku akan bersaudara dengan si kalem, cantik dan baik hati, Surti! Aku tidak tahu harus senang atau sedih, tapi aku juga tidak mau lari, satu malam disini saja sudah membuatku damai. Dan salahkah aku berkeinginan mencicipi kedamaian itu lebih lama?

“Pelangi, kamu yakin tidak apa-apa? Kamu bisa ujian paket C kalau tidak sanggup. Paket C tidak seburuk itu kok!” Surti kecil menatapku prihatin. Aku tersenyum, aku tersenyum??

“Tidak apa-apa kok, Sur, lukaku tidak parah, lihat, hanya lutut yang robek. Tidak ada luka bakar. Aku baik-baik saja.”

“Subhanallah.. Nanti kalau kalian berdua lulus, tak bawa liburan ya. Boleh request kemana. Nem-nya yang paling tinggi yang berhak milih. Hehe.”

Pak Aji tertawa lebar. Surti memeluk ayahnya manja. Aku menahan senyum. Perih.

“Yasudah, kami berangkat dulu ya, Abi. Assalamu’alaikum.”

Surti menyalami tangan ayahnya. Aku mengikutinya dengan gugup sambil menyeret kakiku yang pincang akibat runtuhan kayu yang tepat merobek lututku. Kuulurkan tanganku untuk melakukan hal yang sama. Tapi tak bisa, aku tak biasa, aku cepat berbelok menuju mobil sambil mengucapkan.

“Assalamu’alaikum.”


Artikel Terkait