Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 6

randy-martin-puji-kecantikan-cassandra-lee-6bf867

Aku melihat sekelilingku, begitu berserakan. Bingkai-bingkai foto, pakaian, laptop, semua sudah bercampur aduk. Kutatap wajah wanita asing itu lekat-lekat, lama, lamaaa sekali. Hingga aku tergerak menyentuh tangannya yang dingin dan kaku dan bertanya di dalam hati. Apa penderitaanmu telah binasa wahai Ibu? Apa kau sudah bahagia di alam sana seperti yang dikatakan khotbah tadi pagi? Jika iya, aku berjanji tidak akan menangis.

“Mo-m…”

Kuciumi pergelangan tangan ibu yang pucat dan kudapati sesuatu yang mengganjal ditangannya. Surat, sebuah surat berlumuran darah dan airmata.

“Bakarlah dirimu bersamaku duhai dosa. Cintaku dan ayahmu adalah dosa. Kehadiranmu di dunia adalah dosa. Biarkan kita menjadi abu sebelum dipanggang di neraka. Dan lelaki biadab itu, biarlah, waktu yang akan membakar dirinya.”

Aku gemetar, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku ketakutan namun tak gentar. Kulirik kasur ibu yang berlumuran darah, sudah disiapkannya, setabung bensin dan… Satu, hanya sebiji korek api dengan tempatnya yang dibalut kertas putih bertuliskan.

Neraka yang memilih. Satu cukup, untuk pendosa seperti kita.

Aku menatap wanita tergantung itu. Biadab, kalian semua biadab. Tapi tetapku rengkuh dan kusiramkan tanpa ragu bensin itu ke seluruh ruangan kamar dan sekeliling rumah. Kugoreskan sebiji korek api itu dengan rumahnya. Tak sampai satu detik, api merambat dengan cepat dan aku tersedu sambil berteriak “Mooom… Mooom…. Mooom..!”


Artikel Terkait