Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 4

adopted from vidio.com

Benar kata William, aku tidak perlu belajar, aku selalu mendapat nilai sempurna di kelas. Mungkin itu yang membuat aku sangat dipertahankan di sekolah ini. Aku diikutkan di Olimpiade Nasional bahkan Internasional. Aku juga tidak yakin, kecerdasan ini berasal darimana, ayah atau ibu? Atau Tuhan Yesus?

Beberapa kali aku meminta William meng-kristen-kan aku secara resmi, dibaptis, apalah itu istilahnya, tapi William berceloteh panjang lebar, “Tidak usah, mana tahu besok-besok kamu mau pindah agama! Pilih-pilih saja dulu!”

Aku menatapnya polos, agama itu sejenis apa sih? Makanan? Pakaian? Aku rasa iya, bisa aku pilih sesukaku.

“Bagaimana kita dapat menghadapi kematian? Kita tidak perlu takut jika Allah beserta kita. Ada dalam Alkitab, “Jikalau aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut sekalipun, tiada juga aku takut bahaya, karena Engkau juga menyertai aku, bahwa batang-Mu dan tongkat-Mu ada menghiburkan daku.” (Mazmur 23:4, TL*)”

“Bagaimanakah keadaan kematian itu? Ada dalam Alkitab, “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). “Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: ‘Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.’ Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: ‘Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh. Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: ‘Lazarus sudah mati’” (Yohanes 11:11-14)

“Menurut Nabi Daniel, di manakah orang-orang mati itu tertidur? Ada dalam Alkitab, “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Daniel 12:2). Apakah orang mati tahu apa-apa? Ada dalam Alkitab, “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9:5-6, 10).”

Aku mendengar dengan khitmad kotbah Minggu hari ini. Hari ini aku tidak pergi dengan Si Bakpao, sengaja, aku ingin merasakan kedatanganku pada Tuhan Yesus dalam kesendirian. Ketika pulang kulihat Si Bakpao sialan menungguku di depan mobil noraknya.

“Kau bilang tidak ke gereja! Aku melihatmu tadi di bangku depan!” Ia bicara sambil mengunyah bakpao.

“Kau memang tidak pernah khusyuk!” Aku membela diri.

“Hehehe.” Dia cengengesan. Mempersilakan aku masuk ke dalam mobil merah mudanya.

Aku menunjuk sepeda hijauku yang kumal dan kusam, eh, itu sebenarnya sepeda William, dia yag menghadiahiku waktu kelas empat SD jika aku memenangkan tantangannya. Dia menantangku mengikuti Surti, tetangga sebelahku yang berpuasa di bulan Ramadhan, William berjanji memberiku sepeda kesayangannya jika aku berhasil berpuasa sebulan penuh. Tentu saja aku menang, aku bahkan bisa berpuasa selama tiga hari tanpa sahur dan berbuka! Tidak ada yang masak dirumahku. Aku hanya makan sesekali, ketika aku sangat lapar. Namun, setiap kali aku lapar, aku tidak punya uang. Kamar ibu selalu terkunci, aku tak sudi mengetuknya. Lantas aku akan bersepeda ke komplek elit Si Bakpao dan membunyikan bel sepedaku. Lantas Si Bakpao akan keluar dengan rantang berisi aneka ragam makanan. Surga!

“Muat kok sepeda itu di jok!” Dia masih mengunyah dengan lahap. Pun tanpa menawariku bakpao dengan coklat meleleh.

“Tidak!” Aku menjawab kasar, cepat menuju parkiran sepeda.

“Baiklah! Selamat hari Minggu, Princess. Istirahatlah, besok kita Ujian Nasional. Jangan sampai jatuh sakit! I love you!”

Aku menelan ludah, aku mendengarnya, kata-kata alay Si Bakpao meski aku tak menengok kebelakang. Sial , perangainya semakin menjadi-jadi!

Aku tidak langsung pulang dari gereja, biasanya, Si Bakpao mengajakku ke mall, dia membelikan baju, boneka, dan pernak-pernik mahal yang tidak pernah dan tidak akan pernah aku kenakan atau mainkan. Tapi hari ini, hari pertama aku ke gereja sendirian, aku memutuskan untuk mampir di sebuah taman rindang. Ramai. Bukan kesukaanku, tapi entahlah, hari yang aneh.

“Bunda, sepeda kakaknya lucu!” Seorang anak tersenyum imut, mengelus-ngelus sepeda kumalku. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Antara ingin tersenyum dan tidak. Aku takut anak imut ini akan lari atau menangis ketakutan, kata Si Bakpao, aku mengerikan ketika tersenyum, dan aku percaya.

“Wah, nanti kita beli insya Allah ya, Sayang.” Sang Bunda memeluk hangat anak imut itu. Dan entah kenapa, aku tersenyum.


Artikel Terkait