Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 3

adopted from vidio.com

William, nama asli Si Bakpao. Chinese, of course. Kristiani. Jauh lebih beruntung dariku, karena bahkan hingga umurku yang sudah 11 tahun ini, aku masih tidak tahu agamaku. Setiap minggu aku ke gereja bersama William, dia bilang, berdoa itu penting agar tuhan memberikan kami hidup yang baik. Agar kakiku cepat sembuh. Agar ayah dan ibuku tidak bertengkar lagi. Omong kosong, aku sudah ke gereja sejak kelas 4 SD, tidak pernah alfa. Tapi darah dirumahku semakin banyak, biasanya hanya dilantai, semakin aku berdoa, darah itu berhamburan kemana-mana. Di tembok, di kamar mandi, di kamar tidurku, bahkan dihatiku. Ya, hatiku berdarah setiap hari, karena aku merasakan sakit, nyeri yang tidak pernah bisa, tepatnya belum bisa kujelaskan saat ini.

Tapi akhir-akhir ini, entah itu karena Tuhan Yesus, atau karena William, aku lebih banyak diam, mencoba belajar tersenyum walaupun William bilang, aku mengerikan jika tersenyum. Dia lebih suka aku dengan wajah datarku, katanya, biar tidak ada kerutan diwajahku, seperti anak-anak Jepang. Dia percaya, satu senyuman memberi satu kerutan. Tapi aneh, dia tersenyum setiap hari.

“Minggu depan Ujian Nasional. Tidurlah dirumahku, kita belajar bersama. Tenang saja, ibu dan ayahku keluar kota. Daripada kau dirumah, pasti tidak bisa belajar kan?”

“Ehm, tapi kamu tidak usah belajar sih, kamu selalu dapat nilai sempurna.” Dia menelan ludah. Hari ini dia memakai kacamata bulatnya. Tampak seperti badut.

“Yaa… Maksudku.. Mari belajar bersama. Ajari aku.” Dia memelas, aku menatapnya lama, dengan mata besarku.

“Tidak usah. Tidak jadi. Sampai ketemu besok!”


Artikel Terkait