Cerbung; tentang JjOoDdOoHh, Part 2

adopted from vidio.com

Pertama Kali Mengenal Cinta?

Hmm.. Sulit dijelaskan, aku adalah anak tunggal yang kesepian, bangun dengan rumah berserakan, pecah-belah piring, bau menyengat alkohol dan yang paling menakutkan, darah dimana-mana. Setiap hari. Aku sudah kebal. Waktu kecil, kujadikan semua itu mainan. Aku tak mengenal rasa sakit, kuinjak-injak pecah belah kaca itu sambil tertawa, lalu menangis sambil membalut lukaku sendiri. Tak ada pembantu, apalagi ibu. Ia selalu menangis dan mengurug diri di kamar setelah dua jam betengkar dengan ayah yang lantas, setiap jam tiga pagi beranjak pergi dengan mobil mewahnya bersama wanita jalang, perusak rumah tangga orang. Dan setelah menangis, aku akan membereskan semua itu, aku pel darah ibu dan darahku, kumandikan diriku lalu berangkat ke sekolah.

Sekolah adalah tempat yang memuakkan, semua anak-anak bahagia disini. Mereka tertawa lebar dintar ayah atau ibu mereka atau paling tidak pembantu atau supir. Aku? Mengayuh sepeda dengan kaki yang kupaksakan baik-baik saja. Luka-luka ini, di kaki dan hatiku, adalah jenis luka yang belum seharusnya dirasakan anak kelas 6 SD.

“Pelangi, kamu tinggal dirumahku saja, biar tidak berdarah-darah lagi! Mau kan?”

Aku menatapnya, si boboho kecil yang putih seperti salju di tivi-tivi. Tubuhnya gempal, setiap kali ia bicara, aku lebih fokus pada pipinya yang kenyal. Ingin kucubit dan kumakan pipi yang lebih mirip bakpao itu.

“Tidak.”

Aku menjawab ketus, seperti biasa. Mungkin karena itu aku tidak punya teman, ah, tapi tidak, mereka menjauhiku karena orangtua mereka suka menggosipi kedua orangtuaku yang rumah tangganya tidak keruan, begitu kata mereka. Tapi Si Bakpao, dia bebal, aku selalu ingin menanyakan ini, tapi entah pada siapa, apa dia jatuh cinta padaku?

“Kenapa? Kamu tidak perlu memakai sepeda jelek itu lagi! Kita akan diantar jemput Pak Sugeng setiap hari. Kamu tidak harus menangis setiap hari, kita akan bermain sepanjang hari. Kamu juga tidak akan berdarah dan diperban seperti itu.

“Tidak mau! Diam!”

Sebelum Si Bakpao melanjutkan ceramahnya, aku sudah mendorong bahunya kasar. Itu standar kasarku, masih tingkat satu. Aku pernah mendorong seorang anak perempuan berambut pirang hingga masuk got dan kepala terbentur hingga ayah dan ibunya ingin melaporkanku ke polisi, tapi setelah ditakut-takuti orang tua lain, bahwa ayahku punya geng yang siap membunuh suaminya, dia mengurungkan niatnya.

“Kenapa? Ah, ya sudah, kamu tidak suka melihatku bertanya.”

Dia cemberut, Si Bakpao sialan. Aku menghitung mundur, 5, 4, 3, 2, 1.

“Kamu masuk SMP mana?”

Aku tak peduli, sebelum akhirnya berhasil peduli. Aku mau masuk SMP mana?

“Ti-dak ta-hu.” Aku menjawab gagap. Si Bakpao tersenyum penuh kemenangan.

“Satu SMP denganku ya!” Aku menatapnya semakin sebal.

“Suruh orangtuamu yang urus! Aku tidak punya orangtua.”


Artikel Terkait