Cerbung; Awan Di Langit Syifa, Part 4

menjadi-traveler-mandiri

DOR!

Bubuk mesiu tercium pekat di ruangan 4×4 itu. Satu tubuh tergeletak di dalam lemari. Kaku, diam dan membisu. Pak Rambo cepat menuju jalan raya. Formasi barisan masih sama, tiga jam berdiri tegap membuat peluh mereka mengalir tanpa bisa diseka. Semua wajah pucat pasi, mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi. Apakah Awan berakhir dengan cara ini? Sebagai pengkhianat sekolah dan mati ditembak? Peraturan itu adalah kiamat dalam perundang-undangan sekolah kami, namun, kami, empat puluh anak-anak terpilih ini sudah dilepas melenggang di sekolah keramat ini dengan tanda tangan orangtua ataupun wali. Itu berarti, peraturan pertama, mau atau tidak mau, harus kami taati jika menjadi pengkhianat.

“Awan, ibu percaya, kau bisa bersekolah disini tanpa melanggar satu peraturan pun. Kau anak yang penurut.”

“Yogi, kau selalu keringat dingin jika ketakutan. Maka, berkeringat dinginlah setiap hari, sadarlah, semua peraturan ini adalah ketakutan-ketakutan terbesarmu.”

“Syifa. Apa kau yakin ingin masuk sekolah sebiadab ini?”

“Imran. Jangan macam-macam! Kau bukan lagi anak Mami dan Papi! Di dalam sana, setiap tingkahmu memiliki sanksi yang berat!”

Itu adalah peringatan, nasihat, atau apapun itu, yang kami terima jauh sebelum kami berada di sekolah horor ini. Kami tak menyangka, dalam delapan hari, sudah dua peluru melayang ke langit.

Semua orang masih berdiri tegap dengan keringat dingin mengalir di sekujur tubuh. Kami gelisah dengan cara kami sendiri. Pucat pasi dan keringat dingin itu mutlak. Pikiran dan hati kami gelisah, berkecamuk memikirkan satu kemungkinan terbesar. Ada apa dengan Awan?

“Kau! Duduk 22 menit sementara teman-teman kau masih tegap berdiri! Kalikan lima, tambahkan lima, lakukan sit-up 115 kali!”

Kami masih tegap, kebingungan. Jika Imran bersalah dan Awan di dalam sana tak tahu nasibnya seperti apa, seharusnya ada dua peluru yang ditembakkan bersamaan. Apa gerangan yang sedang terjadi?

“Mulai hari ini, hingga enam hari ke depan, kolam renang tak boleh didekati! Mendekati berarti berkhianat! Semua bersiap-siap, saya tunggu di ruang makan!”

Semua bergegas, tak berani menanyai nasib Awan, Syifa atau Imran yang sedang push up dengan badannya yang gempal.

“Kau, Syifa, Gempal, tidak ada makan untuk kalian hari ini!”

Imran yang mencapai push up ke 40 ternganga. Apa? Tidak makan hari ini? Syifa menelan ludah dengan keringat bercucuran.

“Dan mulai malam ini hingga enam hari kedepan kalian bertiga tidur di kolam renang. Tidak ada belajar! Ajari Awan berenang. Jika dalam enam hari Awan tak bisa berenang, kalian bertiga resmi di-drop out.”

Imran gemetaran, tak bisa ia menahan urin yang tiba-tiba membasahi celananya. Syifa tertunduk lelah.

“Sudahi push-up-mu lalu kemasi barang langsung menuju kolam renang. Ganti celana pesingmu!”

Pak Rambo kilat menuju ruang makan. Imran tersedu sambil terus push-up dengan benar. Tak berani melakukan kesalahan sekecil apapun.

“Huaaah! Hiks…. Hiksssss…. aku tidak per-nah dibeginikan! TIDAK PER. UHUK UHUK UHUK.”

Syifa menatap sebal Imran yang memang anak mami. Cepat menuju asrama siswa untuk menemui Awan. Imran malu-malu berjalan di belakang Syifa yang mau muntah mencium bau pesing celana Imran.

“Syifa.. Ma-af.” Awan muncul dari kamarnya. Wajahnya masih pucat pasi, matanya bengkak.

“Minta maaf padaku juga! Gara-gara kau yang tak bisa berenang, aku tak bisa makan hari ini dan harus tidur di kolam renang yang dingin itu selama enam hari! Kalau Mami tahuuuu! Papi tahuuu! Kaaaau….”

“Diam anak mami! Sekali kau katakan siswa lain bahwa Awan tak bisa berenang, aku cincang kau!” Syifa membesarkan matanya. Imran menciut.

“Sudaah. Ayo kita berkemas! Tidak ada yang mau di-drop out kan?”

Syifa meninggalkan dua siswa malang itu. Imran tak berani berkutik mengetahui Syifa ada di pihak Awan. Awan menatap lelah sosok Syifa yang berkelok ke pintu gerbang menuju asrama siswi.


Artikel Terkait