Cerbung; Awan Di Langit Syifa, Part 3

menjadi-traveler-mandiri

“Darimana saja kamu! Tiga puluh dua menit telat! Kali dua, tambah tiga puluh dua! Push-up sembilan puluh enam kali!”

Syifa cepat mengambil posisi, malas beragumen karena tak ada gunanya mempertahankan fakta dihadapan guru kedisiplinan yang tidak akan pernah mau berada di pihak yang salah.

“Kamu! Yogi! Hitung!”

Yogi yang panikan gelagapan menghitung push-up Syifa. Siswa dan siswi lain prihatin melihat nasib mereka berdua. Apalagi Awan yang belum juga menampakkan batang hidungnya.

“Yang lain cepat renang!”

Bak segerombolan burung yang diusir, tiga puluh tujuh siswa dan siswi dengan baju olahraga biru putih bergegas menceburkan diri ke kolam renang sedalam dua meter. Ada dua kolam renang, satu khusus siswa dan satunya lagi khusus untuk siswi. Mereka cepat berenang hilir-mudik sementara Pak Rambo mengawasi tiga situasi tersebut sekaligus, ah empat sebenarnya, kolam renang siswa, siswi, push-up-nya Syifa dan Putra yang entah dimana. Tentu saja beliau mengawasi empat situasi tersebut dari kejauhan lantai lima melalui teropong usang beliau yang tak rusak-rusak dari zaman baholak. Namun, walau begitu, tak ada yang berani melanggar perintah beliau. Satu pelanggaran berarti satu peluru terbang ke langit dan akan menyebarkan aroma mesiu yang membuat bulu kuduk berdiri.

DOR!

Suara itu terdengar, untuk pertama kalinya dalam seminggu ini. Semua aktifitas terhenti. Semua siswa dan siswi cepat berkumpul di depan kediaman Pak Rambo. Pak Rambo turun dengan seragam loreng beliau dan pistol panjang yang selalu dibawanya kemana-mana. Semua mata tertuju pada Syifa yang baru menyelesaikan push-up ke 70. Syifa pun berhenti menyadari satu peluru terlepaskan, berarti semua aktifitas dihentikan.

Mereka pun mengikuti Pak Rambo menuju asrama siswa. Asrama tampak sepi mengingat semua penghuni sedang berada diluar kecuali Awan yang entah dimana.

“Tidak ada yang boleh masuk sampai saya keluar!”
“SIAAAAAP!”

Semua mengucap mantra ajaib kedua. Tak ada aba-aba untuk istirahat atau duduk, maka berdiri tegap dengan formasi biasanya menjadi pilihan mutlak, meskipun pak Rambo tak melihat dengan teropongnya, namun, beliau selalu tahu apa yang terjadi di belakang. Si Mata Empat, begitu beliau dijuluki para senior yang sering memberi masukan di grup Facebook sebelum memasuki sekolah ini walau angkatan ketiga sekolah ini, yaitu kami, belum pernah membuktikannya.

“Jangan jadi pengecut, Awan!”

Pak Rambo tanpa aba-aba langsung mendapati Awan yang bersembunyi di dalam lemari pakaiannya. Dibukanya pintu lemari itu dan didapatinya Putra yang pucat pasi dan menggigil. Tak banyak tanya, beliau cepat menodongkan senjata keramat beliau tepat diantara dua alis Awan. Awan menutup mata, siap dengan konsekuensi dari aturan pertama di sekolah ini.

“PENGECUT LEBIH BAIK MATI!”


Artikel Terkait