Cerbung; Awan Di Langit Syifa, Part 2

menjadi-traveler-mandiri

Pagi menjelang ketika Subuh menggantung di sela-sela warna adzan yang menyenangkan. Burung-burung berkicau, bersahut-sahutan satu sama lain, bak sedang bercerita banyak hal. Hal-hal menyenangkan tentunya. Di sini, di sekolah asrama ini, tak ku dengar suara bising kendaraan di pagi hari, tak kudengar kesibukan dunia nyata yang berlalu lalang dari pagi. Namun satu suara khas tentu ada, menghantui setiap hari, hingga satu tahun kedepan, mengingat kami adalah anak-anak terpilih yang beruntung—ataupun tidak, bisa menyelesaikan sekolah menengah atas kami hanya dalam waktu satu tahun, super akselerasi, itu nama kerennya.

“Lariiiii…… Lariiiiiii….. Lariiiiiiii!!!”

Suaranya besar, mencekam, berbanding terbalik dengan rupanya yang lucu, pendek, imut-imut. Banyak yang bilang bahwa dia adalah mantan angkatan darat yang sudah ikut berperang kemana-mana. Mulai dari kerusuhan Timor-Timor, Papua, Poso hingga menjadi relawan di Palestina. Di Palestina, bahu dan punggungnya menjadi saksi, dua peluru menembus pertahanan tubuhnya yang kekar, yang setiap hari diasah dengan lari 10 keliling, push up, sit up, renang, dan semua olahraga lainnya. Namun, miris, tak ada yang percaya kisah itu.

“Gitu saja sudah ngos-ngosan!! Baru satu keliling! Tidak ada yang duduk! Berdiri semua! Tegap!”

Dia menatap kami satu per satu, mudah baginya memberi pelajaran bagi yang tidak berdiri tegap. Di sekolah seluas dua puluh empat hektar ini, muridnya hanya 40 orang, 25 siswi dan 15 siswa. Setiap pagi kami akan dianiaya dalam formasi barisan 4×10 dengan jarak satu rentang tangan. Setiap baris harus berselang-seling agar beliau yang namanya boleh disebut bisa menatap kami dari kejauhan sekalipun. Bahkan dari kamar beliau di lantai lima, beliau selalu siap siaga dengan sahabat sejati beliau, sebuah teropong kuno, usang, yang katanya diberikan langsung oleh Presiden Soeharto sebagai hadiah atas penghargaan bergengsi pada masa pengabdiannya

“Payah kalian! Lari saja tidak bisa! Ayo, sekarang kembali ke asrama, shalat Subuh! Jam lima teng sudah disini lagi! Dari asrama berlari kesini, itu sebagai pemanasan karena setelah itu kita langsung berenang, yang telat, tak gorok!

Dan ketua hari ini cepat membubarkan barisan dengan mantra ajaib yang sudah satu minggu ini familiar di telinga kami.

“Bubar Jalan!”
“Teras Jaya!”

Serentak kami meneriakkan nama sekolah terbaik di Indonesia, dan termasuk Top Ten dunia. Bangga memang setiap kali meneriakkan nama sekolah ini, bayangkan, setiap tahun, hampir dua juta siswa yang melamar ke sekolah ini tapi pada akhirnya yang diterima hanya 40 siswa. Tesnya bukan main, tidak pakai pengiriman bahan seperi raport, ijazah SMP atau apapun itu, tes-nya langsung menghadapi soal-soal tingkat internasional dengan Bahasa Inggris tingkat atas. Soalnya hanya enam, memang, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, MIPA, Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Khusus, masing-masing satu pertanyaan yang harus di jawab dalam waktu 12 menit, dua menit masing-masing soal. Setelah selesai, hasil akan langsung diumumkan 20 menit kemudian dan jleb! empat puluh nama langsung terpampang di papan pengumuman sekolah.

“Teman-teman, mohon kerjasamanya ya. Jangan telat, aku ketua hari ini.”
“Iya, Syifaaa…”

Kami serentak menjawab, bak mesin yang setiap jawabannya sudah teroganisir dengan baik.

Kami ligat menuju asrama masing-masing. Asrama siswa dan siswi dipisahkan tembok tinggi, lima kali tembok rumah biasa, lalu ada jalan besar, tempat kami biasa berkumpul, lalu tembok lagi, dua kali lebih tinggi dari tembok pertama, barulah asrama siswa terlihat jika dua tembok ini terlewati. Hanya guru dan murid yang bisa masuk asrama siswa dan siswi. Siswa tidak bisa memasuki asrama siswi, begitu sebaliknya, kecuali siswa atau siswi yang menjadi ketua hari itu.

TENG TENG TENG TENG TENG TENG TENG TENG TENG TENG

Alarm sudah meneriaki sekolah 24 hektar ini. Siswa dan siswi cepat berlarian, berkumpul di jalan raya. Syifa sigap menghitung prajuritnya. Kurang satu!

“Aduh, siapa ini satu lagi?”

Seluruh siswa dan siswi saling melirik, mengingat-ingat kalau-kalau teman sekamarnya tidak ada.

“Awan!”

Yogi berteriak, semua orang menatapnya, dia menelan ludah.

“Kemana dia??” Syifa angkat bicara, wajahnya panik, lima menit lagi jam lima!

“Ta-k ta-hu.” Yogi terbata, wajahnya memerah ketakutan, tubuh gempalnya menciut perlahan.

“Ya sudah, kalian pergilah dulu! Aku akan cek Awan!”

Tanpa banyak tanya, 38 siswa dan siswi berlari teratur dengan formasi barisan yang selalu sama, cepat menuju markas guru kedisiplinan, Pak Rambo.

“Awaaaaaaan……………”
“Awannnnnnnnnn…….”
“AWAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNN!”

Demi mendengar suara itu, aku menampakkan diri. dia menatapku gusar, nafasnya tersengal. Aku mati kutu dihadapannya.

“Ayo, cepat! Kita terlambat!” Dia tak memakiku, tapi kepanikan disuaranya terdengar begitu jelas.

“Kamu sakit?” Dia menatapku prihatin, lantas duduk, dan layaknya kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengikutinya duduk.

“Kalau kamu sakit, ya sudah istirahat saja. Biar aku yang sampaikan ke Pak Rambo.” Duhai, senyum lebarnya kembali, tak berkurang sedikitpun pesonanya walau ia belum mandi dan bersimbah keringat.

“Hmmm…. Ak-u….”

Aku menghela nafas berat, tak sanggup aku mengatakannya, jatuh harga diriku sebagai seorang lelaki.

“Ya?” Matanya membulat, mata yang seperti selalu, menuntut jawabku, tak bisa aku membohongi matanya yang bercahaya.

Aku kembali menghela nafas, tidak ada pilihan lain.

“Aku malu, aku tidak bisa berenang.”

Ia menatapku, aku tak berani membalasnya. Aku pengecut, penakut, tertunduk bisu. Kami terlena dalam diam untuk waktu yang cukup lama.

“Hmmm… Baiklah…” Dia angkat bicara.

“Aku tunggu kau setiap jam tiga subuh di jalan raya. Akan aku ajari kau renang setiap hari selama 1 jam, sampai kau bisa!”

“Hah?” Aku ternganga. Dia tersenyum lebar.

“Aku serius. Aku tidak pernah setengah-setengah.” Dia melanjutkan dengan mantap.

Aku menatapnya, mencoba mencari celah keraguan atau kebohongan di matanya. Tapi tak kutemukan walau setitik, mata itu begitu yakin, dan senyumnya membuatku bersemangat menyambut hari esok.

“Tapi dengan satu syarat.” Matanya membulat.

“Apa?”

Dia tertunduk, dapat kulihat senyumnya memudar dan bibirnya bergetar.

“Kau, tolong ajari aku sholat.”


Artikel Terkait