Cerbung; Awan Di Langit Syifa, Part 1

menjadi-traveler-mandiri

Aku jatuh hati padanya. Pada keceriaannya yang asli. Pada kebaikannya yang tak dibuat-buat. Pada tingkah sopannya yang dirindukan semua hati. Pada cara bicaranya yang membuat setiap orang bahagia. Pada tawanya yang renyah. Pada matanya yang indah. Pada senyum lebarnya yang menawan.

Aku jatuh cinta padanya. Saat pertama kali jumpa.

Dia,…
Jelita.

“Hey! Kok kamu diem aja dari tadi?!”

Matanya membulat, seakan menuntut jawabku saat itu juga. Tapi apa daya, aku tak kuasa bahkan hanya untuk membuka mulut. Bibirku terkunci, seperti melihat hantu, tapi aku tak takut, atau terkencing-kencing, aku bahagia, hatiku tiba-tiba dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan warna-warni beraneka rupa.

“Aku, Syifa!”

Dia mengulurkan tangan, semua orang di kelas ini sedang mengulurkan tangan satu sama lain. Tapi aku tidak, aku tidak bisa, gemetar tanganku, berat rasanya. Bagaimana ini, aku tidak mengerti. Oh, Tuhan, sungguh, bagaimana ini?

“Hmm… Kamu sakit ya? Kalau sakit aku antar ke poliklinik deh! Kamu kok pucat gitu? Kamu sarapan kan tadi pagi? Aduuh, sebentar ya, aku bilang ke Pak Rambo dulu!”

Dia beranjak. Cepat. Aku refleks berdiri dan berteriak.

“Tidak! Ak… aku… Awan! Namaku Awan!”

Seisi kelas menatapku. Semua mendadak sunyi, senyap, sepi. Horor.

“Wah! Awan, kamu jenius! Ayo, teman-teman, lebih efektif berkenalan seperti ini, jadi semua orang bisa tahu nama teman-teman yang lain! Kelas kita pasti menang! Ayo, waktu tinggal 10 menit lagi, cepat, cepat, ligaat!”

Suaranya, gadis itu, gadis disebelahku, lebih indah dari nyanyian hujan. Ia tertawa lebar, rambut hitamnya bergoyang-goyang, gigi-gigi putihnya menawan, matanya menghilang.


Artikel Terkait