Cerbung; Petualangan Jomblo Dalam Berita, Part 3

stitched-red-broken-heart

TETOOOT…

What comes to ur mind when u hear TETOOOT??

Yaaaaaa! LoLa!! Loading Lama!

Cerita ini berawal dari keLoLa-an seorang sobat yang (unlucky) bernama Lola. Mungkin benar kata orang jaman baholak, nama itu doa, LoLa itu nasib. Eh? Jadi, jangan salahkan Lola jika dia LoLa:)))))

“Ke UIN, Pak?”

Bapak Angkot berwajah innocent itu mengangguk. Trio Kwek-Kwek cepat menaiki angkot dengan manis.

Selang beberapa menit menikmati panas terik Pekanbaru, perjalanan dengan tema LoLa ini pun dimulai.

“PAK!!! PAK!!! BERHENTI, PAK!!!!!”

Lola berteriak. Wajahnya panik, memerah bak dikejar-kejar 7 Manusia Harimau.

“A-pa Lol??”
“Kenapa, Lool???”
“Hah?”

Husna, aku dan Pak Angkot saling bertatapan bingung (dan panik plus plus tentunya) apa gerangan yang sebenarnya terjadi?? Lola kenavaaaa?? Kenava Lolaaaa??._.

“OI SALAH OI!! SALAH,!! BERHENTI, PAK!!!”
(Aku dan Husna bengong, menganga, innocent. Angkot melambat.)

“OI!! UIN TU DUA!!! SALAH KITA, OI!! SALAH KITA!!”
(Husna menganga, angkot semakin lambat.)

“Hah? Jadii dimana ni? Islamic Center, kan?”

“IYAAA!! KESANA ARAHNYA!! NDAK SINI DO!! DEKAT RUMAH TIA!!! PAAK, BERHENTI, PAAK!!!”

“GAAK, PAAK! TERUSSS!!”
Aku dan Husna berteriak kompak. Baru menyadari kalau Lola makin hari makin LoLa sudah jelas-jelas ini arah kerumah Tia Si Imulz Salsabila.

“Hehehe. Maaappp. Nda kira belum belook tadi. Hihihiii.”

Ida alias Husna Dari Goa Hantu menatap Lola dengan tatapan hina pangkat 27, -42 derajat celcius, lalu ditiriskan–”

Aku emosi, mendidih di dalam hati. Rasanya, aku ingin terbang ke konter terdekat untuk membeli memori 64 giga. Sakitttt rasanya, memiliki soulmate yang tingkat ke-LoLa-an-nya keterlaluan. Ampuni Lola Ya Allah:(

“Udah booking sebelumnya, Dek?”
“Belum, Kak!”

“UDAAAH!!!”
“BELOM, LOL! KAPAN PULAK KITA BOOKING?!”
Beberapa mata melirik kami. Aku spontan menjawab dengan volume maksimal pernyataan LoLa dari Lolatun.

Ida tersenyum alay, lantas mengikuti kami seperti anak ayam.

“Lol, pas ulang taun lo, kita potong ayam yook!”
“Sekalian ganti nama lo, jadi Speedy!” Aku berkata asal.

“Apoo geeeh!! Ndaaak Nda geeh!!” Bahasa kampungnya keluar dengan fasih dan ekspresinya sungguh tidak jelas.

“Untung tadi gak ada penumpang lain. Kalo ada, mungkin kami pura-pura gak kenal.” Ida Dari Goa Hantu terkekeh.

“Kalian ko geeeh! Tegaaa!!”

Lantas kami terpana dengan seminar internasional yang sedang kami hadiri sekarang. Pikiranku sempat melayang-layang mengingat betapa Lolanya makhluk disebelahku ini.

“Siapa namanya?”
“Lola, Pak.”
“Haaa. Yaiyalaah! Nama kamu aja udah Lola, makanya gak diterima penghapusan matkul kamu! Orang lain udah lamaa ngajuinnya. Kamu baru sekarang. LoLaaa. LoLaaaa.”

Aku dan Ida terbahak ketika menemani si Lola yang LoLa merevisi sesuatu.

“Hmm.. In Semantics slow is a negative word. In Indonesia we have Lelet, Lamban, Lambat, Lemot… What else?”

“LoLa, Sir. Loading Lama!” Aku cepat menimpali dosen kalem dihadapanku. Lola melempar modul Semantics ke wajahku. Aku tersenyum lebar di dalam hati.

“Ida, kalo punya anak nanti, kita jangan kasih nama Lola ya!” :’)


Artikel Terkait