Cerbung; Petualangan Jomblo Dalam Berita, Part 2

images

Kami memulai perjalanan dengan seragam yang lebih baik daripada tes-tes sebelumnya. Terakhir kali, saat tes Micro Teaching, kami sampai dikira sales yang sering ketiduran di Mesjid setempat. Itu ide Lola (red: Loading Lama) yang teramat sangat mainstream.

“Hitam-Putih saja! Kita akan terlihat seperti guru profesional! Believe me!”

Aku yang memang polos (eak) dengan ringan hati menerima masukan itu sebelum akhirnya terhenyak karena sepanjang perjalanan ke kampus, anak-anak iseng selalu nyeletuk, “Ciee.. Moni udah seminar proposal. Selamat yaa.” Tentu saja dengan senyum mengejek yang kubalas dengan ‘Aamiin’ didalam hati.

Dan hari ini, beberapa hari setelah kejadian memakai baju mainstream itu, kami tersenyum lebar karena berhasil mendapatkan pekerjaan dan siap untuk menandatangani kontrak (eaaaaak).

“Mooon, too early gak sih kitaa?” Ida angkat bicara, perawakannya bersahaja layaknya ‘MISS’ Indonesia (only idiots know what I mean)._.

“Iyaa. Belum jam 4, kita sesi jam 5 cooy!” Lola menambahkan, bak rapper ngalor ngidul dengan ke-hyperactive-an-nya-___-

“Ya udeeh, nongkrooong dulu ajaaa. Gitu aja kok rempongz.” Aku menjawab seadanya. Sempat menelan ludah dikata ‘nongkrooong’ setelah terakhir kali mempermalukan diri dihadapan Abang Kelapa Muda dengan minta diambilkan foto bertiga dengan fose yang membuat HP gue error keesokan harinya.

“Gue ogah nongkrong di Abang Kelapa Muda. Maluu!” Lola emosi. Ida mengangguk setuju.

“Iyaaa, kan aku kira kita gak bakalan lulusss jadi gak bakal ketemu Abang Kelapa Muda itu lagi. Hihihihiiii.”

“Yaampiuun. Gak gitu juga keleees.” Ida mengalay.

Kami pun sampai, beranjak mencari tempat nongkrong. Tak kuasa enam mata ini menatap Abang Kelapa Muda yang sudah menyadari kehadiran kami di dunia ini. *hah?

“Hmm.. Tes pertama kan gorengan, tes kedua kelapa muda, nah, hari ini bakso bakar yook?” Aku memberi saran yang (in fact), aku tahu, dua kurcaci ini akan menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. “Ikut aja, terserah, suka’ ati.”

Itu 3 mantra yang akan mereka jawab setiap kali diberi pilihan dalam dunia yang fana ini. *apasih-__-

“Bakso delapan, tahu tujuh, Buk.”
“Oke!”

Si Ibuk Bakso Bakar lihai menyajikan bakso bakar yang membuat darah kami mendidih terbakar rasa tak sabar menyantap sang bakso dari Timur Tengah. Nyanyanya~

“Ini, Dek!” Ibuk Bakso Bakar terlihat cantik ketika meletakkan sang bakso dan tahu bakar di depan mata kepala kami sendiri!!! Berani-beraninya dia melakukan ituuuuh (syntax error)

Kami menyantap sang bakso dengan hikmat. Ditemani angin sepoi-sepoi dan lalu-lalang kendaraan dan hilir-mudik manusia yang tak tentu arah dengan ekspresi yang tak bisa diterka kecuali oleh para pakar telematika. (Yaampun, Mong-_-)

“Aku udah lima.”
“Aku juga.”
“Samaaaa.”

Dan kami saling bertatapan dengan pupil yang membesar. Entah karena ketidakpercayaan atau karena sesungguhnya, Kawan, dari hati yang terdalam, paliiiiing dalam, kami bahagia, sungguh bahagia sekaligus terharu karena…

baksonya berlebih satu:’)

Ahahahhahahahaaaa..

“Atas nama keadilan dan kesejahteraan bersama, mari kita bagi rata satu tusuk bakso ini, Dua Kurcaci!”

“Setuju, Adinda Olifvia!!”

Satu tusuk bakso itu terdiri dari empat komponen bakso kecil-kecil. Atas nama keadilan dan kesejahteraan bersama, aku memulai menegakkan keadilan dengan memakan bulatan bakso pertama dengan rasa terharu yang tak terkira.

“Next.”

Lola menyambut si tusuk bakso dan mengembat dengan nafsu bulatan bakso kedua. Saking nafsunya, dia sampai menggigit sedikit bagian bulatan bakso ketiga yang konon, adalah bagian Ida sang MISS Indonesia.

“Ida!”

Lola menatap Ida penuh kebencian, karena Ia tak sanggup memberikan tahta bulatan ketiga kepada Ida. Tapi apa daya, atas nama keadilan dan kesejahteraan bersama, bulatan ketiga sampai juga dimulut MISS Indonesia, Si Ida Dari Goa Hantu.

“Oke, Dua Kurcaci. Bersisa satu bulatan. Atas nama keadilan dan kesejahteraan bersama, gue akan makan sepertiga, begitu juga dengan kalian.”

Aku tersenyum, kembali menggigit sepertiga bulatan. Lola buas memakan sepertiganya lagi, menyisakan Ida sepertiga yang lain.

“Super sekali. Hahaha.” Kami tersenyum lebar, tak sadar jikalau dari tadi Si Ibuk Bakso Bakar telah menghilang digantikan Abang Bakso Bakar. Ekspresi kami berubah seketika. Sibuk dengan spekulasi masing-masing yang tersimpan rapat di dalam dada.

“Ehem… Pertanyaan terbesar dari misteri satu tusuk bakso ini adalah, ‘Apakah Ibu Bakso Bakar sengaja memberi kita gratis 1 bakso karena membeli 15? Atau Ibu Bakso Bakar menjebak kita agar kita membayar 1 bakso terakhir?? Atauuu, Ibu Bakso Bakar hilang ingatan? Khilaf???'” Aku menggila.

“Kalo bakso terakhir bayar, berarti kita harus ngeluarin Rp. 333.33333/orang, Adinda Olifvia.” Ida beragumen dengan kepala bulat yang dipenuhi angka-angka.

“Cukup dua angka dibelakang koma, Ida!” Lola menjawab sinis, sesak hati Lola jikalau bakso terakhir harus dibayar.

“Baiklah, Dua Kurcaci. Kita terima dengan lapang dada, jika memang harus bayar The Last Bakso Rp. 333.33333,-. Eh, dua angka dibelakang koma.” Aku menjawab tenang dengan cahaya mata terpampang nyata.___.

Kami pun menghela nafas panjang, cepat menghampiri Abang Bakso Bakar.

“16 tusuk, Bang.”

Aku memberi uang 20ribu. Hikmat menunggu kembalian 4ribu.

“Ini. Terima Kasih.”

Abang Bakso Bakar memberi satu lembar 5ribuan diatas tangan kananku. Aku menatap Abang Tukang Bakso dengan tanda tanya sebesar kepala Lola ditambah kepala Ida sama dengan Rp. 333.33333 (anggap aja dua angka dibelakang koma)

“Ak.. En-am be-la-s, Ba-ng.” Aku tergugu, gugup bukan main, bukan, bukan aku jatuh cinta pada Abang Bakso Bakar, tapi,…

“Gakpapa, Dek. Lima Belas aja.”

Wajah kami bercahaya, kalimat terakhir Abang Bakso Bakar begitu indah. Telinga kami tak bisa mendengar hal lain beberapa saat setelah kalimat itu dikumandangkan.

“Em.. Em… Mak-. Makasih, Bang!”

Kami berlalu dengan senyum lebar pangkat 25. Tidak jadi mengumpulkan Rp. 333.33333,- (anggap aja dua angka dibelakang koma). Cepat menuju ‘calon tempat kerja’.

Acara tanda tangan kontrak berlangsung cukup seru. Saking serunya, Trio Kwek-Kwek sempat ditegur Pak Kepala karena membuat keributan.

Adzan Maghrib berkumandang, selang beberapa menit, acara tandatangan kontrak dihentikan. Kami semua bubar. Dari 15 orang yang mengambil sesi jam 5, 12 diantaranya pulang dengan tenang bersama sepeda motor atau dijemput orangtua mereka. Meaning, tinggallah 3 makhluk astral dibawah rintik hujan, menunggu kedatangan bus way yang tak jelas masih ada atau tidak jam segini.

“Ceweeeekkkkkk! Sinilah, Kak!! Bareng kami!!”

Tiga pria tak berbaju mengendarai becak motor hilir mudik mengusik ketenangan kami. Mereka bak tuyul yang tampak dengan mata telanjang.

“Sinilaaah, Kaaaak!! Malam Mingguaan kitaaa.”

Kami menelan ludah, bus way tak kunjung datang, Maghrib sudah berlalu, malam mulai mencekam, jalanan lumayan sepi. Mati.

“Duluan yaaa.”

“Duluan yaaa.”

“Duluan yaaa.”

Satu per satu sisa penghuni kantor beranjak pergi dengan kendaraan mereka. Kami menelan ludah. Sayangku burung kenari, apa gerangan yang akan terjadi?

“Ntar, kalo gue punya motor. Tak akan gue tumpangi orang-orang itu.” Lola emosi. Ida manggut-manggut.

“Halah, punya pun kalo tak bisa bawa ko mau apa, Lol?” Aku menjawab asal.

“HAHAHAHAHA.” Kami serentak tertawa. Baru sadar kalau no of us can ride neither motorcycle nor car. Bisa bawa sepeda aja Alhamdulillah.

“Tanya abang warnet tu aja yok! Jangan-jangan emang gak ada lagi busway disini jam segini. Mampus kita.” Lola berkomentar.

Aku dan Lolatun cepat melangkah ke warnet sementara Ida menjaga lilin, eh, menjaga bus way.

“Bang, numpang tanya, bus way masih ada jam segini?.”

Si Abang Warnet terdiam. Ada kebingungan dari raut wajahnya. Eaaaakkkk..

“Masih! Sampai jam Sambilan!” Seseorang dari salah satu ‘kamar warnet’ menjawab dengan Bahasa Minang kental. Kami tersenyum setelah mengucapkan terima kasih.

“Ada, Ida, sampai jam 9!” Kami antusias.
“Iya! Itu bus way-nya!” Ida menjawab santai, cepat menyetop the bus way.

Bus way melaju santai, diluar hujan lebat. Ada aliran-aliran deras hujan yang terdampar di kaca-kaca bus way. Malam, dengan hujan, aku tersenyum, sisi romantis dalam diriku ikut tersenyum, mengingat sesuatu, apapun itu, siapapun itu, ini tetaplah malam Minggu. Suatu kebanggaan bisa menghabiskan waktu dengan dua sahabat terbaik ketika anak-anak lain sibuk tidak jelas berdua-dua-an dengan lawan jenis.

Apa itu sahabat?
According to KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):

sahabat/sa·ha·bat/ n kawan; teman; handai: ia mengundang — lamanya untuk makan bersama-sama di restoran;
— dekat sahabat karib;
— karib sahabat yg sangat erat (baik); teman yg akrab: dia adalah — karib kakakku;
— kental sahabat karib;

bersahabat/ber·sa·ha·bat/ v 1 berkawan; berteman: jangan – dng orang jahat; 2 menyenangkan dl pergaulan; ramah: ia sangat -;

persahabatan/per·sa·ha·bat·an/ n perihal bersahabat; perhubungan selaku sahabat: – kedua orang itu telah berjalan bertahun-tahun;

mempersahabatkan/mem·per·sa·ha·bat·kan/ v menjadikan bersabahat; memperhubungkan supaya bersahabat; memperkenalkan (dng)

Awkwkwkwk…

“Hujan nih. Makan ajalah dulu yok. Lapaaar.” Lola mengaung. Ida manggut-manggut bak kelinci. Ah, mereka memang kelinci.

“Yukkkz.”

Kami pun makan dengan lahap. Ngalor-ngiduuul. Bla bla blaaaa. Ceplak cepluk.

“Pulang lagi?” Ida Si Kelinci nyeletuk tiba-tiba.

“Iyalah, udah jam berapa ini? Tampang udah kucel gini, pakaian basah, mau kemanaa lagiii? Gilee-_.” Aku menyerocos panjang lebar.

Kami pun angkat kaki. Aku kekenyangan, saking kenyangnya, baju sampe nyangkut di kursi anak kecil dan kebiasaan latah pun terulang.

“Eh, kucing goreng.” Anak kecil dan kedua orangtuanya nyengir. Aku tersipu tanpa malu.

“Huah, lelah adek, Bang.”
“Iya, Abang juga, Dek.”
“HAHAHA. Gnight!”


Artikel Terkait