Terima Kasih Detik, Berhenti Membuatku Menyadari Banyak Hal!

bangun-pagi

Aku melirik jeda pada setiap detik. Merangkumnya menjadi kesatuan titik yang merangkai menit, lalu jam, lantas membentuk 24 yang menjadikannya hari, dan dalam keabsolutan ia memutuskan 28, 29, 30, 31 dan menyebut mereka bulan dengan 12 nama berbeda yang berakhir dengan tahun, sebelum akhirnya muncul nama-nama lain, seperti dasa, warsa yang mungkin ataupun tidak, berakhir pada huruf A, Abad.

Dan aku menyadari itu, hari ini, ketika detik berhenti sejenak sebelum mendekati detik yang lain.

Mungkin benar, kita harus berhenti sejenak dari perjalanan panjang kita, untuk tahu, untuk sadar, untuk paham, ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tak tampak ketika kita terlalu bersemangat berjalan, berlari, yang menyandarkan kita pada satu pertanyaan, “Sejauh ini aku berjalan, berlari, apakah ‘itu’ yang ingin aku tuju, gapai?”

Dan kita memang harus berhenti untuk menjawab pertanyaan itu. Walau sejenak, kita harus berhenti,…

Berhenti dari kelelahan, dari rutinitas yang mengatasnamakan ‘tujuan’.

Karena, seperti detik yang berlalu, kita tidak akan tahu apa yang benar-benar kita inginkan jika kita terlalu cepat melaju, seperti topan atau badai yang tak tentu arah.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu muncul, seperti mimpi-mimpi kemarin malam.

“Apakah kau benar-benar menginginkan ‘itu’?”

“Iya,…”

“Kenapa?”

“Karena itu terlihat hebat, menakjubkan.”

Lantas kenyataan hari ini meruntuhkan tembok mimpi-mimpi itu.

“Kau tidak yakin dengan jawabanmu sendiri.”

“Iya,…”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu, bahkan hingga detik ini, apa yang benar-benar aku inginkan.”

Dan ia tertegun, gadis itu, menghela nafas sesak yang sungguh, menyesakkan. Hingga detik, satuan terkecil dalam kehidupan manusia, menjawabnya, hari ini, saat senja masih jauh untuk terkembang, saat malam belum berani menampakkan batang hidungnya.

“Kau harus berhenti untuk menjawab pertanyaan itu. Berhenti, sejenak.”

“Aku sudah berhenti.”

“Dan kau tentu sudah menemukan jawabannya.”

Detik tersenyum, lantas berangkat menuju detik selanjutnya.

“Belum.”

Gadis itu tertunduk, dalam.

“Bantu aku, Detik.”

Dan detik tersenyum, seakan menertawakannya di atas kesedihan 21 tahun yang memeluknya erat.

“Pernahkah kau menangis, tersedu, sendirian, dalam redup malam, ditemani kelam, tanpa kebisingan, hanya ada sunyi, bertemankan sepi. Lantas dalam sedu sedanmu, kau menangis, mengadu, meminta, memohon sesuatu yang benar-benar kau inginkan dalam hidupmu, sebelum kau menutup mata?”

“Kau menangis, mengadu, meminta, memohon untuk ‘satu’ hal pada sesuatu yang tak tampak, yang tak pernah seumur hidupmu kau temui, tak berupa, tak pernah kau dengar suaranya, tapi kau percaya, teramat percaya, hingga malam-malam sunyimu kau habiskan bersamanya?”

Ia, gadis itu, mengangguk, lantas tersedu.

“Apa yang kau minta di malam-malam itu?”

“Apa yang kau minta dalam tangis, dalam sedu?”

“Karena itu adalah mimpi terbesarmu. Itu adalah tujuanmu. Itu adalah hal yang paling kau inginkan.”

“Karena kau tidak akan pernah memohon dalam tangis dan sedu, jika kau tak benar-benar menginginkan itu.”

Gadis itu tersenyum, dengan pedih yang masih terkurung, terpenjara dalam nurani yang suci.

“Aku sudah tahu jawabannya.”

“Terimakasih, Detik. Terimakasih sudah membuatku berhenti. Hingga aku tak berjalan dalam bimbang, karena aku lelah berlari dalam kelam. Kini, cahaya itu telah hidup, menuntunku ke tempat yang kuharap benar.”

Terimakasih.


Artikel Terkait