Pertanyaannya, Sudikah Waktu Menghabiskan Waktunya Denganku Yang Selalu Memikirkan Waktu-Waktu Kita Terdahulu?

0e4545749_1442929748_blog-in-defense-of-sadness

Jika waktu adalah benar sebuah petunjuk, mungkin waktuku dan waktumu akan membawa kita pada sebuah cerita yang lebih baik.
Mempertemukan kita meski jalan terlalu berkelok-kelok tak menentu.

Tak sesuai antara pilihanmu dan mauku.
Lantas waktu jualah yang akan mengobati bekas-bekas luka merindukanmu, dan kala kau rindukanku.
Waktu, jika memang, begitu.

Tapi waktu, ternyata, hanya bisa berlalu. Tak bisa mengajari cara-cara ampuh tuk lupakanmu.
Di waktu senggangku, tetap tak bisa khayalku tak mengimajinasikanmu, tak pernah lupa mendeskripsikan rupamu di langit-langit kamarku.

Gila!

Aku pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin waktu tetap memperbolehkanku melakukan itu.
Sayang, waktu tak bertugas memperbaiki hati seseorang.
Waktu hanya berlalu, tak pernah meragu.

Pertanyaannya, sudikah waktu menghabiskan waktunya denganku yang selalu memikirkan waktu-waktu kita terdahulu?
Kurasa tidak, waktu hannya berlalu.

Berlalu, begitu saja..

Tanpa mau ikut andil atas rasa sakit kehilanganmu, atau aku.


Artikel Terkait