Kepada Negeriku yang Begituku Cintai. Kemana Gadis Kecil Kita yang Penuh Kejujuran?

web-7

Kepada negeriku yang begituku cintai.

Aku punya sebuah cerita, dulu, dulu kala, ada seorang anak yang tidak mengerti apa-apa. Ia berangkat sekolah dengan bahagia, belajar banyak hal dalam kebingungan dan banyak pertanyaan, tapi saat hari penentuan datang, para tetuah mulai mengatakan, tanpa kami kau tak akan pernah bisa lulus ujian.

Mereka mulai mengatakan bahwa tanpa kecurangan, hidup tidak akan pernah bisa menjadi lebih mudah.

Beranjak remaja, kecurangan-kecurangan kecil menjadi makanan sehari-harinya, menjadi sebuah kebiasaan yang mungkin akan mengakar jika tak segera dihentikan.

Si kecil itu pun mulai berpikir untuk berjuang mencari kemudahan dengan cara yang benar. Saat itu, hidup memang tak menjadi lebih mudah, tapi tak sesulit yang orang lain bayangkan.
Ia pun memutuskan untuk berkelana, mencoba menaklukkan tempat lain diluar dunia kecilnya, miris, yang ia temukan adalah penampakan-penampakan menyimpang yang jauh lebih banyak, tanpa pedli dosa, tanpa mengenal malu.

Ia dan idealismenya seperti sehelai rambut di luasnya padang pasir dunia ini. Diinjak, dihembuskan angin, tak dipedulikan, menjijikkan.

Dan perlahan, si gadis kecil yang punya hati sebening mutiara itu mulai berusaha menjadi pasir, sekuat tenaga mengubah dirinya agar sama dengan milyaran pasir itu, agar tak dibedakan, agar tak sendirian. Dia tak tahu betapa istimewanya ia, mungkin ia sudah tak mau tahu, terlampau lelah, dahaga.

Gadis kecil itu adalah anak-anak kecil kita, yang seharusnya diajarkan kebenaran, diajarkan rasa syukur, diajarkan untuk selalu berbuat baik dan jujur agar ia tak seorang diri di padang pasir yang luas agar ia punya banyak kawanan yang menemaninya mensyukuri nikmat-Nya.


Artikel Terkait