Kelak, Aku Akan Menemukan Cinta yang Mungkin Akan Setara Dengan Cintaku Padamu, Ayah,..

daddys-girl-square-e1434119714440-1024x1021

Dulu,… Ketika ibu susah payah melahirkanku, aku kira hanya ibu yang berusaha. Ayah tidak.

Tapi ternyata, ayahlah yang paling gemetaran waktu itu. Keringat dingin menantikanku. Ayahlah yang susah payah mencari uang untuk persalinan ibu.

Ketika aku mulai bertumbuh. Ibu yang selalu kulihat saat bangun tidur dan kembali tidur di malam hari. Dan ayah adalah orang yang paling susah kutemui.

Kata ibu, ayah pergi di pagi buta sebelum aku terbangun dan pulang larut malam saat aku sudah terlelap. Ayah sedang berusaha untuk memberi kehidupan yang lebih baik untuk kami.
Beranjak remaja, aku sering bertemu ayah. Namun enggan menyapa. Karena aku sudah punya duniaku sendiri. Punya geng keren dan selalu ingin berkumpul dengan mereka yang kupanggil sahabat.

Jangankan ayah. Membantu ibu pun aku malas. Aku lebih suka bermain dengan teman-temanku.

Hal itu berlangsung hingga aku SMA. Aku mulai menemukan sosok lelaki yang bisa menbuat hatiku berbunga-bunga. Aku jatuh cinta. Rasanya begitu indah hingga aku selalu ingin bersama.

Tapi sayap-sayap cinyaku patah karena ternyata, cinta tak seindah itu. Ternyata, cinta bisa mengkhianati, bisa menyakiti. Bisa melukai. Membuat hatiku hancur bagai debu yang diterbangkan angin.

Saat itu, aku hanya ingin satu hal.
Bertemu seseorang yang mencintaiku, seperti ayah mencintai ibu.

Sebelum menikah. Setelah menikah. Saat aku bangun tidur dengan wajah menyeramkan. Atau saat aku terlelap dan menganga. Aku mungkin juga akan mengorok, aku akan menua, kulitku akan mengeriput, tapi lelaki itu, akan terus mencintaiku. Seperti ayah mencintai ibu. Seperti tatapan kasih ayah pada ibu yang bagiku masih tetap sama. Selalu jatuh cinta setiap hari pada wanita yang sama.

Lalu aku sadar, bahwa bagaimanapun juga. Kita tak akan pernah menemukan cinta yang sempurna. Cinta itu selalu cacat. Sekecil apapun. Ia akan tetap memiliki cacat. Tapi, layaknya ayah dan ibu, yang mungkin pernah ingin saling meninggalkan, yang mungkin pernah saling bertengkar, yang mungkin pernah ingin saling melupakan.

Tapi mereka memilih untuk tetap. Tetap tinggal. Tetap disisi. Tetap menua bersama sampai nanti, sampai mati. Hingga cacat yang mereka punya adalah sebuah cacat yang tersempurnakan oleh cinta yang mungkin usang, tapi tetap ingin disimpan, dipertahankan hingga kelak, hingga aku bisa melepaskan ayahku.

Hingga aku menemukan cinta pertama yang lain, yang bisa ataupun tak bisa, ah, tak akan pernah bisa menggantikan posisi teratas di daftar cinta terbaikku–ayah.

“Lelaki terbaik di dunia ini adalah lelaki yang percaya bahwa kau masih sanggup berjalan walau terlahir tanpa kaki.”

Ayah yang selalu percaya itu, dan juga, kamu,…


Artikel Terkait