Untuk Saudara Kami; Gaza, Suriah, Dimanapun, Kalian Sungguh Bahagia

aleppo-syria

Di pagi yang indah ini, kami sedang tersenyum mensyukuri kesejukan yang menghampiri kulit.

Beberapa orang akan memilih kembali dalam selimut setelah beberapa menit menghadap-Nya.

Ada yang masih hanyut dalam dzikirnya. Sambil menangis, rindu, rindu akan Dirimu, Tuhan yang hanya satu. ESA.

Ah, itu pasti kalian. Yang hidup dalam kepasrahan yang indah dari subuh ke subuh.

Saudaraku, pagi ini, kami menggerutu karena ibu sakit dan tak bisa menghidangkan sarapan. Sementara kalian disana bersyukur untuk sekeping roti yang dibagi dua. Beberapa anak yang tak kebagian karena orang tua mereka menghilang, dengan polosnya memakan rerumputan. Agar perut terganjal, agar rasa lapar hilang.

Saudaraku, kami disini sedang siap-siap untuk pergi ke sekolah. Tersenyum lebar diantar ayah dan bunda dengan Mobil mewah. Bertemu banyak teman, berlarian riang. Sementara kalian disana berlarian sambil ketakutan. Meneriakkan lafas-Nya. Dikejar peluru, dikejar tank, dikejar bom.

Kami disini tidak ingin sholat subuh dengan berbagai alasan; dingin, masih ngantuk, nanti saja

Tapi kalian? Terjaga sepanjang malam menjaga sang buah hati. Menatap anak-anak sepenuh hati karena mungkin esok peluru sudah tertanam di jantungmu.

Air tidak bisa lagi digunakan untuk mandi, banyak yang mengantri kehausan. Banyak yang ingin berwudhu dengan sebenar-benarnya wudhu. Setiap hari kalian bermandikan keringat, darah, debu dan airmata. Tapi tak pernah dan tak akan pernah kalian putus asa. Semakin beringas makhluk tak berhati itu menindas, semakin panjang shaf sholat kalian, semakin khusyuk sholat kalian, semakin kuat pertahanan kalian.

Salut, sungguh salut.

Tak terbayangkan jika kami harus menjalani hidup yang sedang kalian jalani saat ini. Pagi dibangunkan peluru, siang dikejar tank-tank biadab, malam dihantui bom bertubi-tubi.

Setiap hari melihat tubuh-tubuh kaku bergelimpangan. Setiap har, entah berapa mili darah mengering karena tank semalam, dan basah karena bom barusan.

Setiap hari seorang anak yang hatinya bersih menjadi yatim lalu piatu. Setiap hari pula seorang ibu menangis karena semua anaknya terlelap untuk selamanya.

Jangan kau tanyakan berapa sehatnya kami disini. Kami, dibangunkan adzan, lalu ayam yang berkokok lantas burung yang bernyanyi. Sebegitu indahnya, hingga lupa bahwa waktu sholat subuh kami sudah menghilang.

Menyesal, tapi beberapa orang tak terlalu berpikir, santai, percaya seakan ia masih punya hari esok untuk menebus kesalahan.

Ah, kami sungguh belajar dari kalian semua yang tangguh nun jauh disana..

Yang tidur diantara reruntuhan bata, berselimutkan pasir, disengat dingin. Tapi itu yang membuat seorang ayah memeluk erat gadis kecilnya, mengaliri kehangatan sekaligus kasih sayang yang esok hari terbang menjauh direnggut peluru tajam yang datang dari berbagai arah. Bau mesiu adalah makanan2 sehari-hari yang tak terelakkan.

Disana, sang suami mati saat berusaha meminta bantuan untuk istrinya yang kesakitan untuk sebuah kelahiran, sang ibu menyusul suami diikuti kebingungan tiga balita yang tak mengerti apa-apa. Dan 5 ledakan seketika merenggut  5 nyawa serentak dengan tangis seorang bayi laki-laki yang detik pertama dalam hidupnya menjadi yatim piatu. Bayi laki-laki yang seorang diri, tersedu, telanjang, dibalut darahnya sendiri, ditemani darah ayah, ibu dan tiga saudaranya.

Disana, 1 kehidupan harus dibayar dengan 5 kematian. Sementara kami disini hidup semaunya. Ingin masuk surga tapi bertingkah bak penghuni neraka. Tak tahu diri, tak tahu malu, tak mau tahu. Sibuk dengan trend kekinian, sibuk dengan gadget paling baru, sibuk dengan urusan lelaki yang suami pun bukan.

Duhai, seharusnya kami malu, kalian masih bisa tersenyum di foto-foto yang kami hanya bisa lihat dari tanah yang berbeda. Tersenyum karena sepotong roti tawar, tersenyum karena sehelai pakaian, tersenyum begitu indah seakan tak pernah melalui rasa sakit.

Dan seharusnya kami lah yang bertanya, “Siapa yang lebih bahagia?”

Kalian, selalu kalian, yang tetap bersyukur dalam luka, duka dan ketakutan. Yang tetap bersinar dalam kegelapan. Yang tetap berangkulan meski darah taruhannya.

Yang masih tangguh mendirikan sholat meski dikelilingi tank yang siap menumpahkan sumpah serapah. Yang selalu melahirkan generasi-generasi baru karena harapan yang tak akan pernah mati.

Kalian sungguh bahagia, di dunia ini dan kelak, di surga-Nya, insya Allah.

 


Artikel Terkait