Duhai, Masa Lalu. Akankah Aku Ikut Berbahagia Atau Malah Tercabik Ketika Kelak Kau Memutuskan Untuk Benar-Benar Melupakanku?

gak fokus belajar

Di malam yang gelisah dalam gulita yang mencekam.

Sesekali aku memikirkanmu yang sempat singgah untuk waktu yang cukup lama di hati yang tak bisa memberikan apa-apa selain kejujuran.

Apa kabar?

Apakah cinta semakin membuatmu dewasa atau terlena? Atau mungkin tenggelam bersama siluet senja dan hanya sibuk menyiksa diri untuk melupakan seseorang yang selalu hadir dikala sepi.

Apa kabar?

Apakah rindumu dan rinduku sedang saling menyapa? Atau mereka memilih jalan yang berbeda hingga tak pernah bersua.

Apa kabar?

Apakah malam ini kau juga sedang menuliskan cerita tetang kita berdua? Layaknya aku, yang terjaga, dan memilih untuk memikirkanmu.

Jika saja ada celah antara kita untuk saling memahami, akankah kau memilih untuk kembali, atau tetap pergi?

Bagaimana jika semua yang aku katakan dan yang aku lakukan adalah kebohongan untuk membuatmu menjauh? Sebuah keputusan yang aku sesali setiap hari.

Hai, sudah lama tidak berjumpa.

Hanya melihatmu dari dunia bagian maya.

Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.

Seperti,

Apa yang membuatmu jatuh hati padaku?

Apakah rambutku yang kasar, atau mataku yang cekung atau mungkin wajahku yang tidak pernah tersenyum?

Itu pertanyaan tidak penting. Semua orang tahu.

Ah, tidak, aku hanya ingin mengatakan banyak hal.

Untukmu, masa lalu.

Kau tahu, tak mudah bagiku melupakanmu. Butuh banyak kesibukan untuk membunuh setiap senti kenangan yang terlanjur menggapai bulan.

Bertahun-tahun aku berkutat dalam sendu untuk memahami hatiku sendiri. Mengapa menunggumu, mengapa memikirkanmu, mengapa semua hal masih tentangmu?!

Kujalani hidupku dengan pertanyaan yang selalu sama, yang tak pernah ada yang bisa menjawabku.

Apakah aku lelah? Lelah! Tak bisa kukatakan seberapa lelahnya aku hingga untuk mencintai orang lain pun aku tak sudi.

Entah karena aku masih mencintaimu, atau aku masih tak bisa merelakanmu untuk siapapun.

Ah, masa lalu.

Kau berada di masa lalu.

Namun aku hidupkan setiap hari.

Di pagi hari, ketika mentari terbit, mengingatmu seraya tersenyum penuh syukur karena kau masih berada di dunia yang sama denganku.

Di waktu-waktu senggangku, ketika semua orang berfikir bahwa aku sedang bersantai, melepas penat dari rutinitas. Tapi tidak, otakku selalu berpacu untuk menjawab banyak pertanyaan tentangmu; dimana? Sedang apa? Sehatkah? Dan memastikanmu dan meyakinkan diriku bahwa kau masih mencintaiku.

Dikala senja, ketika siluet indah menyilaukan bola mataku. Seperti ingin aku berlari mengejar kenangan yang terlalu jauh di belakang. Memperbaiki banyak hal. Seperti mengatakan jikalau dimasa depan aku masih setia menantimu.

Dan di malam-malam seperti ini. Ketika seharusnya kau yang menemaniku dari ruang kejauhan hingga aku sedikit lebih tenang dalam ketakutan.

Duhai, masa lalu.

Akankah aku ikut berbahagia atau malah tercabik ketika kelak kau memutuskan untuk benar-benar melupakanku?


Artikel Terkait