Surat Cinta Untuk Ibu. Datang Dari Masa Lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ibu, maafkan anakmu ini, yang sedari kecil hanya bisa menyusu, minta digantikan popok, minta dipasangkan baju, minta dibelikan ini-itu tapi tak pernah berterima kasih.

Malah menangis, membentak-bentakmu karena hal yang kau beri tidak sesuai dengan yang anakmu inginkan.

Ibu, maafkan anakmu ini, yang sedari kecil kau bacakan dongeng sebelum tidur, kau ajarkan Tata Cara Sholat, kau biayai fasilitas terbaik, kau sekolahkan tinggi-tinggi, tapi tak pernah berterimakasih.

Malah tidak ingin sekolah. Tidak mau belajar. Tidak sungguh-sungguh menuntut ilmu.

Maafkan anak rantaumu ini ibu, yang sesekali menelfon. Hanya ketika benar benar perlu denganmu. Perlu minta uang, perlu minta paket, ada yang harus ditanyakan seputar kuliah, tapi tak sempat menanyakan kabarmu, apa kau sudah makan hari ini? Padahal mungkin kau hanya makan sekali sehari, agar hemat dan bisa menabung untuk masa depan anakmu ini.

Ah, ibu, sungguh maafkan anakmu ini. Yang bahkan ketika libur, tidak pulang ke kampung halaman. Lebih memilih liburan bersama teman-teman yang padahal dilihat setiap hari. Tak peduli betapa susah payahnya kau banting tulang memperoleh uang.

Ibu, maafkan anakmu ini. Yang tidak tahu diri, yang jika pulang pun bukan karenamu. Setiap hari lalu lalang dengan seorang lelaki brengsek yang disebut Pacar. Tak peduli akan cinta sejati yang selalu menyiapkan sarapan, makan Siang dan makan Malam spesial untuk putrinya yang pulang kemalaman, pergi terlalu pagi. Tak dapat mencicipi satu sendok pun masakan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang

Ibu, mungkin anakmu ini sudah buta. Berusaha mencari cinta lain. Cinta dari lelaki yang sebenarnya hanya menginginkan nafsu belaka. Tak peduli akan kekhawatiranmu yang tidak bisa tidur sampai putrimu pulang. Tak peduli bahwa kau semakin hari semakin tua.

Ibu,… Maafkan.

Putrimu ini seharusnya sadar, cinta sejati yang selama ini ia cari ada pada dirimu. Seorang wanita yang rela melakukan apapun untuk anaknya. Yang rela tidur tiga jam bahkan tidak sama sekali ketika putrinya sakit. Yang hanya bisa menangis mengadu kepadaNya untuk kebahagiaan putrimu dimasa depan. Yang tanpa pamrih, tak mengharap balas. Tulus, ikhlas, lillah.

Ibu. Terima kasih. Anakmu tidak ingin menyesal karena tak sempat mengatakan terima kasih ketika kau dipanggilNya kelak.

Terima kasih yang seharusnya datang jauhhh dari dua puluh tahun silam.

Terima kasih ibu. Kau adalah cinta yang tak perlu dicari.

Cinta yang hadir tanpa perlu diminta.

Cinta yang tak akan pernah menyakiti.

Cinta yang,… sejati.


Artikel Terkait