Dan Ketika Kita Menutup Mata Kelak, Kita Tahu Bahwa Kita Pernah Jatuh Cinta, Masih, Dan Selalu Akan.

images

Hai, calon imamku. Apa kabar?

Apa yang kau lakukan hari ini? Bekerjakah? Sedang sedihkah? Atau sedang memikirkan aku yang tak kau tahu adalah jodohmu?

Aku disini baik-baik saja. Mengisi hari-hariku dengan begitu-begitu saja. Tak ada yang istimewa. Sesekali aku termenung, memikirkan masa depan yang tampak begitu jauh dan terlalu sulit diraih. Di waktu luang yang lain, aku memikirkanmu, tersenyum, berpikir bahwa kau sedang melakukan hal yang sama, memikirkanku ditempat kau berada.

Duhai, calon suami masa depan. Bagaimana kau mendeskripsikan calon isteri idamanmu? Seorang wanita yang adem ayem, ayu tapi ceria? Atau seseorang yang bisa memasak bebek panggang yang membuatmu selalu ingin pulang cepat kerumah sehabis bekerja?

Ah, bagaimana jika aku adalah wanita amburadul yang mencuci satu piring pun aku enggan. Bagaimana jika aku adalah wanita yang lebih suka bermain-main, tertawa lebar riang bahagia, jauh dari kata ayu, kalem dan semacamnya?

Bagaimana jika aku adalah wanita yang memasak telur pun tidak bisa? Apakah kita tidak akan dipertemukan sampai waktu dimanaa aku menjadi seseorang yang kau harapkan?

Lantas bagaimana jika yang kuharapkan dari lelakiku adalah seorang yang humoris, suka bertualang, membawaku berkeliling dunia, berdua, tanpa hidup dalam rutinitas yang membosankan, kerja-kerja-kerja?

Sementara kau adalah seorang workaholic yang menikmati dunia dengan caramu. Tidak sudi menghabiskan waktu melihat pegunungan, air tenang danau di malam hari!

Apakah kita tak akan berjumpa sampai salah satu dari kita sudi menjadi orang lain?

Bagaimana jika yang aku impikan adalah hidup sederhana di pegunungan yang hanya berdiri seorang diri rumah kecil kita bersama sebelas anak kembar yang menggemaskan?

Sementara kau adalah lelaki perkotaan yang mencintai macet dan hanya bisa memberikan waktu untuk anak-anak di akhir pekan!

Masih sudikah Tuhan mempertemukan kita?

Ah, begini saja.

Bagaimana jika hari-hari ini kita habiskan dengan egois?

Lakukanlah semua hal yang kau mau. Jadilah dirimu sendiri. Aku pun begitu. Aku akan berkeliling, melihat dunia, bertemu banyak orang, tertawa bahagia, memotret hal-hal indah dan tak lazim, jatuh cinta pada pria lain yang satu hobi denganku.

Sementara kau entah dimana, bermain golf dengan klien-klien kaya raya, sibuk dengan rutinitas dan ambisi demi membangun mimpi-mimpi yang tak pernah habis, dan tak pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Hingga pada perjalananku yang kesekian kalinya, disuatu tempat yang belum kutahu dimana, kita berjumpa, dan kau, untuk kali pertamanya, jatuh cinta, ketika melihatku bersenang-senang dibawah hujan yang selalu kau takuti sedari kecil. Dan mata kita bersua, mereka bicara.

Dan cerita selanjutanya, kau yang putuskan, kau yang lanjutkan. Karena tepat ketika kau memutuskan untuk menjadikan aku yang pertama dan terakhir, tepat ketika akad nikah kau ucapkan dihadapan mertuamu, ayah kandungku, aku telah berjanji dalam hati kecilku, untuk memberikanmu segalanya, bukan hanya cinta, tapi juga kebebasan, mimpi, cita-cita, segalanya.

Dan aku tidak akan pernah menyesal melakukannya. Karena aku sudah melalui banyak hal, melakukan semua hal yang aku mau, semua hobi yang aku tekuni, semua mimpi yang ingin aku raih, semua cita-cita yang aku perjuangkan, sendirian, jauuh, jauuuh sebelum kita bertemu.

Hingga tak ada dan tak akan pernah ada rasa benciku ketika kau memintaku untuk berdiam diri dirumah, menjadi ibu untuk putra-putri kita yang membutuhkan kasih sayang dari madrasah pertamanya.

Tak akan aku bantah kau ketika hanya kau yang akan mencari nafkah dari subuh hingga malam.

Tak akan ku protes kau ketika hanya Minggu yang bisa kau berikan seutuhnya untuk anak-anak kita kelak.

Tapi satu hal, bolehkah aku meminta satu hal?

Izinkan aku mencintai anak-anak kita dengan caraku, kau dengan caramu.

Biarkan aku mengizinkan mereka berbahagia dengan setiap pilihan yang mereka buat. Biarkan mereka melakukan banyak hal, melihat dunia seperti yang ibunya lakukakan dulu, jika itu yang mereka mau.

Dan hingga kita tua kelak, dan kita berdua hanya bisa terduduk melihat cicit-cicit kita berlarian. Kita tahu bahwa kita selama ini telah hidup, sebenar-benarnya hidup.

Kita bahagia karena dari detik pertama mata kita bersua, hingga kedua mata kita menutup, entah itu kau, atau aku yang pertama pergi, kita tahu bahwa kita pernah jatuh cinta, bahkan masih, dan selalu akan.

 

 


Artikel Terkait