Biarkan Aku Sendiri. Menyembuhkan Lukaku Sendiri. Menepis Rasa Sepi Tanpamu Jauh Lebih Baik.

2Q==

Ini entah sudah malam keberapa dalam hidupku yang sudah cukup panjang ini. Aku melirik kalender, menghitung hari, entahlah, aku tak tahu, aku tak peduli.

Aku masih sibuk menatap sendu bintang-gemintang yang mulai membentuk rasi-rasi sederhana. Membiarkan laptop yang sudah ber-jam-jam dipakai hanya untuk mengetuk kata demi kata di keyboard yang tampak tak berdaya. Kesakitan karena setiap hari selalu dipukul-pukul oleh tangan manusia yang entahlah mengetikkan apa. Aku tak tahu, aku tak peduli.

“Berhentilah sejenak. Jangan paksakan dirimu.” Sebuah suara halus nan lembut menyapa aku yang kini sempurna terdiam. Memeluk sunyi yang sempurna menepi di hati.

“Tutup mulutmu dan diamlah.” Aku hening membalas. Melirik datar salah satu bintang yang baru saja berbicara lewat cahya kecilnya yang berpendar-pendar cemerlang.

“Istirahatlah. Mimpi-mimpimu sudah di depan mata. Semua yang Kau inginkan hampir sempurna Kau genggam. Jadi, apalagi yang Kau tunggu? Tidurlah. Berhentilah.” Suara itu kembali menyapaku. Aku semakin sendu menatap bintang-gemintang yang menyebar indah di seluruh langit malam nan kelam.

“Tutup mulutmu dan diamlah.” Aku semakin hening membalas. Membiarkan angin menyentuh lembut pipi merah mudaku.

“Menangislah, jika hatimu menginginkan itu. Jangan Kau paksakan ketegaranmu. Menangislah jika Kau ingin menangis. Jangan bohongi perasaanmu. Jangan. Menangislah.” Suara itu masih tak bosan menegurku. Aku menghela nafas panjang. Menatap tajam sebuah bintang yang sedari tadi menceramahiku. Bintang itu tak gentar. Balas menatapku tak kalah tajam.

“Apa yang Kau mau?” Aku membentaknya kasar. Dia masih tak gentar. Masih tajam menatapku.

“Aku ingin Kau memaafkanku.” Dia berkata datar. Menatap penuh arti aku yang menatapnya semakin tajam. Aku menelan ludah. Dia menghela nafas.

“Untuk apa?” Aku patah-patah menjawab. Membiarkan angin semakin lembut menyentuh pipi merah mudaku.

“Untuk pergi tanpa mengatakan bahwa aku akan kembali.” Dia melanjutkan. Menatap kelu aku yang kini sempurna tertunduk. Menahan sesak yang hampir empat tahun aku hirup. “Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.” Dia semakin kelu menatapku. Dia akhirnya menang, aku menangis.

“Apa kesempatan itu masih ada?” Dia sendu melanjutkan. Aku terdiam. Mengusap pedih ujung-ujung mataku. Membiarkan malam menertawakanku.

“Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan hatimu disakiti orang lain lagi.” Dia melanjutkan. Membiarkan aku dengan diamku nan ikut kelu.

“Percayalah padaku. Aku sungguh tidak akan pergi lagi.” Dia terdiam sesaat. Aku memberanikan diri menatapnya. Menatap bintang yang selama empat tahun menghilang di telan awan malam dan kini muncul tanpa proposal.

“Tutup mulutmu dan diamlah.” Aku tegas menjawab. Membuat cahaya bintang itu mengecil perlahan. Meredup bersama redupnya malam.

“Apa rasa itu terlalu sakit?” Dia melemah. Berusaha bertanya dalam beku dan kakunya aku. “Teramat.” Aku menjawab dingin. Sedingin musim dingin memaksa memeluk Antartika.

“Kenapa Kau tak mencobanya lagi? Kita bisa memulainya dari awal.” Dia kembali bertanya. Kali ini tak begitu lemah. “Aku sudah berjalan terlalu jauh. Aku tidak akan pernah kembali ke awal.” Aku menjawab pedih. Tak sudi menatapnya lagi.

“Meskipun denganku?” Ia masih tak gentar. Aku juga tak gentar menunduk.

“Meskipun denganmu.” Aku membalas tajam. Kudengar helaan berat nafasnya. “Kenapa? Aku akan menyembuhkan lukamu. Aku akan selalu ada untukmu.” Dia tak mau kalah dan masih tak ingin mengalah.

“Tutup mulutmu dan diamlah.” Aku geram. Aku ingin pergi dari percakapan ini. “Kenapa?” Suaranya tercekat. Hatiku bersorak. “Karena aku benci kata-kata itu.” Ia terdiam. Aku semakin tertunduk, menelisik pedih hatiku nan perih.

“Apa aku mengingatkanmu padanya?” Dia semakin ingin tahu dan aku semakin peduli. “Tidak. Aku tidak akan pernah mengingatnya.” Aku mengumbar kata. Kurasakan pergerakan pupilku yang seketika membesar. “Kau sedang mengingatnya.” Ia berkata kelu. Aku ingin kembali menangis. “Apa yang Kau mau dariku?” Aku lelah. Cepat mencari ide pokok dari dialog menyedihkan ini.

“Aku mau Kau kembali.” Ia berkata mantap. Aku sesak menahan sesak. “Aku lelah. Aku tidak akan pernah kembali.” Aku menjawab tak kalah mantap. Ia terdiam sesaat. “Baiklah. Tapi aku akan selalu ada dibelakangmu. Aku akan menjadi orang pertama yang membantumu bangkit ketika Kau jatuh.” Ia berpendapat. Berusaha memilih kata-kata terindah untuk meluluhkan hatiku.

“Diamlah. Aku benci kata-kata itu.” Aku tak terpengaruh. Aku tidak akan terpengaruh. “Lantas apa yang harus aku lakukan untuk kembali kepadamu?” Suaranya kali ini bergetar. Hatiku ikut bergetar. “Menunggu.” Aku menelan ludah. Berusaha semantap mungkin mengungkapkan isi hatiku. “Maksudmu?” Ia berucap seakan benar-benar tak tahu-menahu. Dan aku benci itu. “Tunggu aku.” Aku menjawab singkat. Sesingkat malam ini yang sebentar lagi disingkirkan pagi.

“Menunggumu dan membiarkanmu dengan perihmu sendiri? Tidak akan! Izinkan aku mengobati luka itu.” Ia kembali menampakkan egonya. Aku menatapnya lekat-lekat. “Tidak perlu. Luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu.” Aku kasar berucap. Menatapnya tajam seakan aku kuat. “Lantas apa yang harus aku lakukan untuk kembali bersamamu?” Ia terdengar putus asa. Air mataku seketika tergenang.

“Pergi.” Aku gentar. Aku sungguh gentar dengan kata-kataku sendiri. “Apa?” Ia semakin tampak putus asa. Dan aku semakin gentar. “Pergilah. Sejauh yang Kau bisa.” Aku menangis. Patah-patah melanjutkan.

“Pergilah. Jauh dan kembalilah kesini empat tahun lagi. Bersama ayah dan ibumu.” Aku menghela nafas. Aku tidak mengerti apa yang aku katakan. “Pergi selama itukah??” Ia semakin dan semakin putus asa. Aku terisak.

“Jika rasa itu nyata, maka empat tahun bukanlah waktu yang lama.” Aku sendu membalas. Aku ragu akan kata-kataku yang ambigu. “Lalu kenapa aku harus membawa ayah dan ibuku?” Ia terdengar sedikit lebih kuat. Aku menelan sesakku. Terdiam. Lagi. Lagi. Dan lagi. Aku terdiam lama seraya menunduk dalam pedih. Bintang itu tampak tak sabar atas jawabanku. Aku menghela nafas, ia menelan ludah. Aku hening, ia sepi. Aku sunyi, ia hampa. Aku menangis, ia terisak.

SPLASHHHHH

Sebuah kilatan cahaya tiba-tiba menyilaukanku. Aku seketika menengadah. Menatap langit yang kini cerah. Pagi telah menggantikan malamku. Mencampakkan satu-satunya bintang yang mengoceh panjang lebar denganku semalam suntuk. Hatiku seketika gerimis. Ada yang hilang dari hatiku dan aku tak tahu disisi yang mana.

“Untuk melamarku.” Aku menjawab lemah. Berharap bintang itu mendengar jawaban penting ini. Jawaban yang sangat ia tunggu. Begitupun aku. Aku menatap langit cerah pagi ini. Berharap langit cerah ini hanya maya. Kutunggu beberapa detik agar langit ini kembali gelap dan mempertemukanku dengan bintangku. Namun yang kutunggu tak kunjung datang. 

Aku mengalah. Berlalu walau aku tak mau. Meninggalkan langit cerah itu sendirian. Terdiam dalam sesak yang mengharu biru. Membuat pagi semakin bisu berkomentar tentang detik yang berlalu.  

Jika rasa itu nyata, maka kau tak akan pernah lelah menunggu. Biarkan aku sendiri, menyembuhkan lukaku sendiri, menggapai mimpi-mimpiku sendiri, bangkit sendiri ketika aku jatuh, menangis sendiri bersama langit pagi. Biarkan aku sendiri, bersama Tuhan-ku, menjemput asa yang semakin menepi disisi.


Artikel Terkait