Bagaimana Jika yang Kubutuhkan Bukanlah Dia, Tapi Kau.

Akan ada banyak lelaki yang datang dan pergi sesuka hati. Hanya singgah sejenak untuk memuaskan keingintahuannya, atau mengusir kebosanan dan rasa lelah. Lantas pergi dengan begitu mudah. Tanpa peduli bagaimana sang wanita yang ia tinggalkan memaknai setiap pertemuan yang telah ia rancang begitu indah.

Beberapa akan tetap tinggal hingga waktu tertentu. Hingga ia menemukan wanita yang lebih baik dimatanya. Hingga ia merasa tak nyaman lagi. Hingga ia merasa wanitanya sudah mulai membosankan.

Satu, dua akan setia menunggu sampai sang wanita menerimanya. Sampai sang wanita mengatakan iya untuk akad nikah.

 

Namun terkadang, sang wanita begitu kelu untuk mengatakan iya, karena berbagai alasan yang memang ditolak logika.

Tersenyum sambil menangis via bumssoeulindo.wordpress.com
Tersenyum sambil menangis via bumssoeulindo.wordpress.com

Dan bukan hal yang mudah untuk mengatakan iya pada orang yang baik, yang selalu ada.

Karena cinta tidak sesederhana itu. Karena kebaikan dan intensitas jumpa, tak cukup untuk menjadi tolak ukur cinta.

Cinta,,, adalah hal yang rumit. Sesekali bisa diterka jalan ceritanya, tapi akhir cerita adalah benar-benar sebuah misteri tingkat tinggi.

Banyak orang bilang, dengan semudah-mudah sebuah perkataan, jika kau adalah mentari dan awanmu kini gelap yang menghilangkanmu dalam hujan dan mendung, tinggalkan saja awan gelapmu, jadilah bulan, karena kini kau sudah punya bintang yang setia menemani.

Benar. Apa susahnya menjadi bulan, tersenyum bersama bintang-bintang. Kenapa harus bertahan dalam kungkungan mendung dan awan hitam yang perlahan menghilangkanmu sebelum malam?

Sayang seribu sayang.

Hal itu sungguh tidak mudah.

Bagaimana jika aku lebih bahagia bersama awan, yang walau kelam, yang walau menutupiku, tapi aku merasa terlindungi?

Awan gelap via travel.detik.com
Awan gelap via travel.detik.com

Bagaimana jika aku lebih suka menjadi mentari yang tak tampak berada di antara awan-awan gelap?

Bagaimana jika aku ingin terus bertahan walau awan memberiku hujan badai yang tiada henti?

Bagaimana jika aku memutuskan untuk tinggal dalam pelukan awan kelam yang menciptakan badai.

Karena untuk apa aku paksakan takdirku menjadi bulan, primadona diantara bintang gemintang yang setia disisi. Mengakui keberadaanku. Tapi aku merasa hampa, berbeda, sendirian.

Untuk apa menjadi bulan, jika semua yang kuinginkan adalah digulung awan.

Karena menjadi mentari ataupun bulan, tak bisa kupungkiri bahwa awan selalu ada disisiku.

Mau malam ataupun siang, awan adalah teman sejatiku. Walau terkadang ia menyembunyikanku dan bintang-bintang dibalik kelamnya ia.

Dan mau menjadi mentari ataupun bulan, aku tidak akan pernah bisa lari darinya, karena ia adalah tempatku tinggal. Sejauh manapun aku berlari, ia selalu menemukanku karena ia adalah jalan menuju semua tempat yang ingin aku tuju.

Mentari senja via diahliteraturespensaba.wordpress.com
Mentari senja via diahliteraturespensaba.wordpress.com

Jadi, bagaimana mungkin aku meninggalkan awan, tempatku bertumpu atas segala sesuatu.

Karena, tak peduli seberapa dalam luka yang kau toreh, kau selalu memberiku jalan untuk kembali,… Kepadamu.

 


Artikel Terkait