5 Kronologi 10 November yang Akan Membuatmu Menitikkan Air Mata

soekarno

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hari dimana para pahlawan kita paling banyak gugur. Hari dimana kita seharusnya bisa mengambil pelajaran atas setiap perjuangan sungguh-sungguh para pahlawan.

Bagaimana keberanian mereka berjuang, mempertaruhkan hidup yang hanya satu kali. Bertarung dengan keyakinan dalam pertumpahan darah, tidak memedulikan nyawa yang hanya satu.

5 kronologi 10 November ini semoga bisa membuka mata kita, betapa kita harus mensyukuri hidup dengan kemerdekaan yang para pahlawan pinjamkan sebagai bukti kecintaan mereka terhadap Indonesia.

1. 10 November 1945

Once and forever via www.beritaunik.net
Once and forever via www.beritaunik.net

10 November adalah Hari Pahlawan Nasional. Salah satu alasannya karena pada hari ini terjadi perang yang sangat dahsyat dan banyak menewaskan para pahlawan Indonesia.

Perang ini adalah perang pertama setelah Indonesia merdeka. Perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tak terhitung pahlawan kita yang gugur dengan darah sebagai saksinya dan kemerdekaan sebagai imbalannya.

2. Beberapa orang Belanda dibawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada tanggal 19 September 1945 pukul 21.00 tanpa persetujuan Pemerintah Daerah Surabaya mengibarkan bendera Belanda di tiang teratas Hotel Yamato. Keesokan harinya pemuda Surabaya marah karena tindakan itu dianggap telah menghina gerakan pengibaran bendera Merah-Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Mempertahankan kemerdekaan via www.beritaunik.net
Mempertahankan kemerdekaan via www.beritaunik.net

Residen Sudirman, Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, melakukan perundingan dengan Mr. Ploegman dan anggotanya untuk menurunkan bendera Belanda dari tiang teratas Hotel Yamato.
Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda.

Hal ini membuat keadaan memanas dan membuat Sidik, salah satu pengawal Residen Sudirman, mencekik Ploegman hingga tewas. Sidik pun ikut tewas dibunuh tentara Belanda sementara Sudirman dan Hariyono (pengawal Residen Sudirman) berhasil melarikan diri. Beberapa pemuda berebut menaiki tiang teratas Hotel Yamato untuk menurunkan bendera Belanda.

Pada kejadian yang lain, pimpinan pasukan Inggris, Brigjen AWS Mallaby tewas karena kesalahpahaman yang mengakibatkan baku tembak pasukan Inggris dengan Indonesia, hal ini membuat Inggris menyebarkan kira-kira 500.000 ultimatum dengan pesawat melintasi kota Surabaya.

Ultimatum itu sama sekali tidak berpengaruh bagi arek-arek Surabaya untuk memperjuangkan kepastian kemerdekaan Indonesia. Ultimatum itu memerintahkan semua pemimpin dan orang Indonesia yang memiliki senjata agar melapor dan menyerahkan diri.

Batas ultimatum adalah subuh tanggal 10 November 1945. Jika tidak dilaksanakan, Surabaya akan diserang lewat udara, darat dan laut.

3. Dini hari pukul 02.30 tanggal 10 November 1945, seluruh arek-arek Suroboyo bersama TKR, pembantu dan mantan PETA serta sukarelawan bersiap untuk perang. Bung tomo memberikan pidato legendarisnya untuk membakar semangat masyarakat Indonesia sebelum turun ke medan perang.

bung tomo
Merdeka atau Mati, Bung Tomo via http://smeaker.com/

4. Kalangan ulama mengerahkan para santri dan masyarakat sipil untuk ikut melakukan perlawanan pada armada Inggris. Inggris sangat kuat tentunya bahkan hingga sekarang dijuluki Singa Eropa. Namun, ini adalah kali pertama Inggris mendapat musuh yang begitu hebat; rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya bahkan dikenal lebih hebat dari Bangsa Barbar.

5. Mendengar berita tentang ultimatum 10 November, seluruh pemuda Indonesia mulai dari Medan, Bali, Sulawesi hingga ke pelosok Indonesia bangkit dengan gagah berani untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

soekarno
Soekarno via http://nasional.tempo.co/

Merdeka atau mati?! Pahlawan-pahlawan kita sudah menjawabnya, “Berjuang demi kemerdekaan sampai mati. Karena mati lebih baik daripada dijajah di tanah sendiri.”

Semoga kita bisa menjadi pahlawan-pahlawan Indonesia selanjutnya. Merdeka!