Merayakan Valentine, Kenapa Tidak?

valentine

“Apa yang kalian tahu tentang Valentine?” begitulah pertanyaan yang dilontarkan salah satu teman penulis saat mengajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerah Tangerang. Mendengar pertanyaan tersebut, sentak hampir semua siswa mengacungkan jari untuk menjawab.
“Hari Valentine adalah hari kasih sayang, Bu. Biasanya Valentine digunakan pemuda dan pemudi untuk memadu kasih.” Ada juga yang berkata, “Orang Islam haram hukumnya memeringati Valentine, Bu. Kata pak ustadz, di Islam tidak ada ajaran seperti itu”. Begitulah kurang lebihnya, rasanya pro dan kontra akan hari kasih sayang tersebut tak pernah ada habisnya. Bahkan, anak kecilpun mempunyai kerangka berfikir tentang Valentine seperti itu.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang fenomena perdebatan masalah 14 Februari, alangkah lebih baiknya untuk kembali memahami sejarah Valentine terlebih dahulu. Banyak sekali sumber yang bisa dijadikan referensi untuk mengetahui sejarah Hari Valentine. Ada yang meneyebutkan, Hari Valentine berawal dari zaman Kaisar Claudius di Romawi. Saat itu, sang kaisar memerintahkan semua pria untuk bergabung menjadi prajurit dan diharamkan menikah. Namun, kebijakan tersebut ditentang oleh seorang Pastur yang bernama St. Valentino.

St. Valentino menentang peraturan tersebut lantaran dirinya menanganggap pernikahan bukan sesuatu yang dilarang dan bisa dibatasi begitu saja. Singkat cerita, pada tanggal 14 Februari St. Valentino dijatuhi hukuman mati oleh Kaisar karena menikahkan sepasang kekasih. (Banyak versi yang menceritakan sejarah asal-usul Hari Valentine, namun yang sering dipahami masyarakat adalah cerita di atas). Begitulah kurang lebih cerita sejarah Hari Valentine.

Di Indonesia sendiri, Hari Valentine dipahami sebagai hari kasih sayang, jadi tak mengagetkan jika mendekati 14 Februari banyak toko-toko yang mendadak merubah gaya arsitekturnya dengan hiasan-hiasan ala Valentine. Penjual coklat menjamur di mana-mana, dan pemuda-pemudi yang merayakan—sibuk memilah dan memilih hadiah untuk kekasihnya.

Namun sangat disayangkan, banyak pemuda dan pemudi yang kurang mengerti dan memahami pergolakan politik yang mendasari 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang. Yang lebih parah, Hari Valentine dijadikan “ajang hura-hura dan memuja kebebasan”. Bisa dikatakan, pemuda-pemudi bangsa ini hanya menerima dan melanjutkan apa yang telah berjalan, tanpa mempunyai keinginan untuk menyelidiki dan memahami esensi valentine itu sendiri.

Sehingga tak ayal dan sangat wajar jika pemuka-pemuka agama, khususnya Islam, mengharamkan atau tidak menganjurkan Peringatan Hari Valentine, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan begitu merusak moral pemuda dan bangsa.

Namun mengingat antusias pemuda-pemudi atau remaja bangsa ini yang gandrung akan Hari Valentine, tampaknya terlalu susah untuk menghentikan aktivitas peringatan tersebut. Fatwa haram atau pembentukan opini buruknya Hari Valentine (bagi saya pribadi (baca:penulis)) kurang begitu efektif untuk mencegah. Alangkah akan lebih bijaksana bila orang tua negeri ini membiarkan pemudanya berkarya dan bebas mengekpresikan keinginannya, selama tidak bertentangan dengan norma yang telah berlaku di masyarakat. Seperti puisi Khalil Gibran “…. Anakmu bukanlah anakmu, dia adalah anak kehidupan..”.
Ada adagium sederhana, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Namun jika mencegah dan mengobati tak lagi bisa dilakukan, ada satu cara yang (barang kali) bisa dimanfaatkan. Meniru ilmu membelokkan arusnya Sukarno. Biarkan pemuda larut dalam arus peringatan Hari Valentine, namun jangan sampai lengah untuk membelokkan arusnya dengan unsur memberi kasih sayang kepada budaya dan warisan leluhur nenek moyang Indonesia.

Seharusnya para sesepuh bangsa (pemerintah), guru-guru di sekolah, orang tua di rumah mulai memberi edukasi dan fasilitas untuk peringatan Hari Valentine. Toh esensi Valentine adalah kasih sayang, sudah saatnya kita mendidik anak bangsa ini bahwa hari kasih sayang tidak hanya pada 14 Februari, tapi setiap hari.

Seharusnya tak adalagi perdebatan dalam agama mengenai Hari Valentine. Jika esesnsi dan makna Valentine adalah hari kasih sayang dan –begitu juga—agama mengajarkan kasih sayang, maka “wajib hukumnya” umat beragama merayakan Hari Valentine setiap hari. Artinya, Valentine bukan sebatas peringatan, melainakan sudah masuk pada ranah esensi mencintai Indonesia yang beragam ini.


Artikel Terkait