Inilah Alasan Kenapa Sepakbola Indonesia Gak Maju-Maju

indonesia kalah

Sepakbola adalah olahraga yang paling digemari di dunia, tua muda anak bapak semua menggemari olahraga yang juga di kenal dengan  soccer atau football. Di negara kita, Indonesia Sepakbola juga menjadi olahraga nomor satu yang paling digemari. Euforia sepakbola di Indonesia bahkan di percaya sebagai yang nomor satu di Asia, Indonesia dikenal sebagai Brasilnya Asia jika melihat animo begitu bagusnya masyarakat Indonesia terhadap sepakbola.

Namun walau dikenal sebagai Brasilnya Asia kenapa prestasi Indonesia jelek banget ?, bahkan jangankan level Dunia dan Asia sob. Level ASEAN aja kita sering kalah bersaing dengan Thailand, Malaysia dan bahkan Singapura. Penduduk banyak, antusiasme melimpah, bibit unggul juga gak kurang. Lalu kenapa Indonesia masih gak berprestasi juga, penasaran apa aja sebabnya?,  Inilah alasan kenapa sepakbola Indonesia gak maju-maju (versi AyoBuka.com).

1. Politik

Sepakbola dan politik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan itu emang benar, di negara peraih 4 piala dunia seperti Italia saja nih sob Silvio Berlusconi adalah pentolan politik partai Forza Italia sekaligus pemilik salah satu tim tersukses di dunia, AC MILAN.   Namun disana tidak banyak pemilik klub yang juga orang politik, Andrea Agneli, Masimo Morati, Thomas di Benedito dan Aurelio de Laurintis bukanlah orang politik namun pengusaha.

Di Indonesia semua menjadi tidak sehat karena hampir semua klub dimiliki atau minimal direcoki oleh politik. Hampir 80% klub di Indonesia dikendalikan oleh kepala daerah, sehingga sering terjadi dana APBD yang seharusnya oleh kepala daerah dipakai buat masyarakat umum untuk kepentingan umum malah di gunakan untuk operasional klub. Okelah sob jika sepakbola itu digemari oleh banyak masyarakat namun apa masyarakat umum semua juga suka sepakbola?

Enggak kan? Maka dari itu untuk sebuah negara yang masih tertinggal seperti Indonesia dimana jalanan masih banyak rusak sungguh tidak bijak jika dana APBD yang seharusnya untuk membangun malah digunakan untuk membiayai klub demi semua euforia semu segelintir golongan. Sudah selayaknya sepakbola Indonesia mulai lebih proporsional dalam politik.

Sepakbola harus dipegang oleh profesional yang tidak berafiliasi lagi dengan politik agar sepakbola yang bersih dan sportif tidak lagi digunakan sebagai kendaraan politik. Setuju?!

2. Tidak Ada Nyawa Sepakbola

Hampir sama dengan penjelasan di poin pertama, orang-orang yang berkecimpung dalam dunia sepakbola Indonesia mayoritas tidak memiliki nyawa untuk sepakbola. Padahal untuk membangun sebuah klub diharuskan orang yang benar mencintai olahraga tersebut.

Begitupun dengan pengurus PSSI kebanyakan bukan seseorang yang mencintai sepakbola dengan hati namun malah “menggantungkan hidup” dan menjadikan sepakbola Indonesia sebagai ajang komersialisme, sehingga tidak heran jika disini sering terjadi pertentangan dan dualisme karena memang PSSI itu “kue” yang lezat untuk dinikmati.

3. Kompetisi Yang Kurang Baik

Peraturan yang tidak tegas adalah salah satu borok yang mengganggu kompetisi di Indonesia. ISL sebagai kompetisi tertinggi selalu mendengungkan nafas “profesionalisme” namun hal yang terjadi sebenanrnya kebalikannya. Dengung profesionalisme hanya ada di kertas, sebab klub yang profesional adalah klub yang bisa membiayai dirinya sendiri.

Di Indonesia banyak klub yang memproklamirkan diri sebagai klub profesional namun gaji tidak dibayar, meminta dana pemerintah atau kesulitan sponsor. Padahal untuk membangun sebuah kompetisi yang baik diperlukan kompetisi yang benar-benar profesional dan tegas tidak luwes dengan keadaan agar pemain yang dihasilkan oleh liga juga berkualitas dengan baik.

4. Pembibitan Usai Muda Yang Buruk

Anak muda berbakat dalam sepakbola di Indonesia sangat banyak bahkan sering kita mendengar anak-anak kecil kita yang berusia belasan tahun bisa menjuarai kejuaraan kompetisi sepakbola anak-anak seperti danone. Namun selepas anak-anak atau remaja kemana mereka pergi?,

Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya pembinaan yang berkelanjutan, Andai sejak kecil anak-anak berprestasi di bina dan didik maka bisa dipastikan kita akan memiliki sebuah generasi emas yang bagus.


Artikel Terkait